Warga Kota Tangerang Masih Alami Kelangkaan Gas Melon

0 52

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Akibat dampak kelangkaan gas melon 3 kilogram bersubsidi, warga Kota Tangerang harus merogoh kocek lebih dalam untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

Kendati Pemkot Tangerang sudah meriliris bahwa kebutuhan gas 3 kg tersebut sudah tercukupi. Tetapi hal ini tidak dirasakan oleh warga Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang. Mereka sempat kesulitan mendapat gas bersubsidi di warung terdekat.

Untuk memenuhi kebutuhan urusan dapurnya, warga harus rela membeli makanan siap saji. Liah (30) warga Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Karang Tengah mengaku kesulitan mencari gas melon 3 kg.

Sebagai ibu rumah tangga, Liah mengaku terpaksa harus membeli makanan siap saji untuk keluarganya.

“Dimana-mana kosong, dua warung disebelah saya kosong bahkan sejak tiga minggu yang lalu, akhirinya saya beli lauk mateng saja dari pada kena marah sama suami,” jelas ibu dua orang anak itu, Kamis (14/12/2017).

Dia melanjutkan, dengan membeli makanan cepet saji, tentu bisa menambah pengeluaran uang belanja pada setiap harinya, karena kelangkahan gas melon 3 Kg. Akhirnya kata dia tidak bisa memasak.

“Kalau seperti ini terus bisa bikin memboroskan uang belanja, biasanya kalau ada gas pengeluaran belanja Rp35.000 ribu sampai dengan Rp50.000 ribu, itu bisa untuk makan sampai malam,” ungkapnya.

Sementara Syamsudin (62) seorang pengecer gas melon mengatakan, kelangkahan gas bersubsidi di warung miliknya dirasakan sejak tiga minggu lalu. Kata Syamsudin, hingga kini pihaknya belum juga mendapatkan pasokan gas elpiji tersebut.

“Biasanya saya dipasok setiap tiga hari sekali 25 tabung, tapi sejak tiga minggu yang lalu saya tidak mendapat pasokan, bahkan saya sudah mencari disetiap pangkalan juga kosong,” terang Syamsudin.

Dirinya juga menjelaskan, kelangkahan gas elpiji, lantaran subsidinya akan dicabut oleh pemerintah dan akan diganti dengan tabung gas 5 Kg non subsidi.

“Yang saya denger-denger dari pangkalan sih katanya gas melon mau dicabut subsidinya, mau diganti sama warna pink yang harganya Rp40.000 ribu pertabung,” kata Syamsudin.

Lebih dalam ia mengatakan, jika kelangkahan gas elpiji tersebut terus berkelanjutan dan benar akan diganti dengan yang 5 Kg, bisa berdampak pada penghasilan dagangnya.

“Pemasukan bisa berkurang, apalagi kalau diganti dengan yang 5 Kg sudah pasti abisnya lebih lama, minat pembeli juga pasti lebih cenderung masih ke gas melon. Karena kalau yang 5 Kg harganya lebih mahal,” tandasnya. (aputra)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...