Pesona Rambutan Parakan Lebak Banten Punya Segmen Penggemar Berbeda

BANTEN,PenaMerdeka – Rambutan jenis ini memang berbeda dari varian buah berbiji lainnya. Namanya Rambutan Parakan, puluhan tahun silam sempat sukses dibudidayakan petani di wilayah asal Tangerang Raya (Kota Tangerang, Tangsel, Kabupaten Tangerang).

Kini lantaran pada era tahun 1990 an semakin menyusutnya lahan di wilayah Tangerang Raya (dahulu wilayah Tangerang masih satu, red) endemiknya beralih dikembangkan petani di wilayah Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Rambutan Parakan disebut mempunyai daya tarik berbeda, makanya segmen penyuka dan daya jualnya berbeda dengan rambutan yang ada di tanah air.

Parakan dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 1.500-3.000 mm per tahun serta suhu udara antara 22 sampai 35 derajat celcius.

Dahulu hampir di setiap pekarangan rumah di wilayah Tangerang Raya pasti mempunyai pohon rambutan yang kuat memiliki khas rasa manis, berbuah padat, tebal serta sedikit kandungan air dan mudah untuk dikuliti ini tetapi faktanya semakin sulit ditemukan.

Tim penamerdeka.com beberapa waktu lalu sempat menyambangi pembudidaya rambutan yang memiliki nama latin Nephelium Lappaeum di Desa Padasuka, Kecamatan Maja, Lebak.

Pantauan di lokasi, sepanjang jalan di wilayah Maja hampir seluruh pekarangan rumah milik warga mempunyai pohon Rambutan Parakan.

Bahkan saat itu masyarakat setempat sedang menikmati hasil panen. Mereka menjajakannya kepada pedagang dan tengkulak. Pola pemasarannya memang beragam, ada yang sudah di bayar di muka sebelum rambutan panen dan ada juga membeli langsung saat rambutan sudah merah untuk siap dipetik.

“Saya punya sekitar 50 pohon. Dalam setahun hanya sekali berbuah tetapi kami bisa tiga kali petik panen. Harga dalam setiap kali petik berbeda-beda,” ucap Arhim (41), yang mengaku punya sejumlah jenis rambutan lainya kepada tim penamerdeka.com beberapa waktu lalu.

Soal pembudidayaan Rambutan Parakan kata dia, sekarang ini pun sudah dikembangkan di daerah Lebak Selatan dan Kabupaten Pandeglang. Tetapi rambutan ini sekarang tetap banyak dibudidayakan di daerah Maja.

“Saat dipasarkan, ciri atau khas rambutan ini dalam satu ikat hanya dijual sebanyak 12 buah saja. Tapi sekarang banyak warga dan pedagang mengikatnya dengan 14 biji rambutan. Kalau pedagang beli di petani harganya Rp2000 hingga Rp2500 per ikat,” ucapnya.

Sementara pedagang yang membeli langsung atau memborongnya dalam satu pohon untuk petikan yang pertama bisa mencapai Rp1 juta, hasil petikan yang kedua dan ke tiga dalam satu phon sama berkisar di harga Rp750 ribu.

Jadi kata Arhim kembali menjelaskan, dari tiga kali petik dalam satu phon total yang kita dapat sekitar Rp2,5 juta. Ada sekitar lima puluh pohon rambutan dari berbagai jenis di lahan 1 hektar yang Arhim punya. Keuntungannya tinggal dikalikan saja berapa banyak jumlah pohon parakan yang petani punya.

“Rambutan Parakan berbeda dari jenis yang lainnya. Harganya lebih menjanjikan. Tingkat kesulitan merawatnya juga tidak sulit. Mudah-mudahan kedepan Parakan tetap dibudidayakan,” ucap Arhim.

Hanya saja tandas Arhim, sekararang ini menurutnya jumlah lahan di daerah Maja juga semakin berkurang karena adanya pengembang yang sedang getol membebaskan tanah masyarakat untuk mengembangkan bisnis properti. (redaksi/tim)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kota Tangerang 2019

Disarankan
Dirgahayu RI 73 Jazuli Abdillah