Zulfikar Demokrat

Obesitas Beresiko Tinggi Terhadap Kerusakan Jantung

0

JAKARTA,PenaMerdeka- Hasil penelitian yang dikemukakan Chiadi Ndumele seorang ilmuwan asal Universitas Jhons Hopkins, Maryland, Amerika Serikat, ditemukan bahwa penderita obesitas beresiko tinggi terhadap kerusakan jantung

Dari penemuan itu menunjukan seseorang yang menderita obesitas dalam jangka waktu 10 Tahun akan memiliki tingkat kadar triponin yang tinggi.

Troponin dilepaskan saat otot jantung sedang rusak, lalu semakin banyak kerusakan Jantung nantinya akan besar pula kandungan troponin dalam darah.

Dengan begitu kata Chiadi Ndumele, solusi untuk menghindari hal tersebut adalah menjaga berat badan. Bertambahnya usia kita harus meminimalkan kerusakan pada agar selalu sehat.

“Bahwasannya berat badan orang di usia 25 tahun dan seterusnya, terkait kerusakan hati sedikit demi sedikit potensi akan banyak. Setelah itu diikuti kadar troponin protein,” kata Chiadi Ndumele, yang juga tercatat sebagai Asisten Profesor di Universitas Jhons Hopkins.

Obesitas memang menjadi salah satu momok yang mengkhawatirkan di masyarakat. Obesitas kini menjadi satu isu yang patut disoroti karena memicu masalah kesehatan lain, seperti kerusakan jantung.

Wakil Sekjen I Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (Perki) Dr BRM Ario Soeryo Kuncoro SpJP(K) FIHA mengatakan, obesitas merupakan penimbunan lemak berlebih yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Menurut standar World Health Organization (WHO), kategori obesitas adalah jika seseorang memiliki body mass index (BMI) 30 ke atas.

“Obesitas kelas satu memiliki BMI 30-34,9. Obesitas kelas dua memiliki BMI 35-39,9. Sedangkan, obesitas kelas tiga memiliki BMI di atas 40,” jelas Ario saat ditemui di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, seperti diberitakan republika online beberapa waktu lalu.

Obesitas kata dia melanjutkan, dapat menyebabkan kenaikan volume darah dalam tubuh dan curah jantung atau kardiak output. Ini memaksa jantung bekerja lebih keras sehingga pada ototnya  memompa lebih berat.

Jika berlangsung lama, maka mulai mengalami pelebaran ataupun penebalan. Ini yang akhirnya menjadi kerusakan.

Pada kasus pelebaran jantung, ukuran jantung membesar dari ukuran normal sebesar kepalan tangan. Pelebaran jantung ini menyebabkan kemampuan jantung memompa darah menurun.

Sedangkan, pada penebalan jantung, volume darah yang bisa masuk ke jantung berkurang sehingga jumlah darah yang dipompa ke seluruh tubuh juga menurun.

Ario mengatakan, penebalan jantung dapat merusak struktur seluler otot jantung dan menimbulkan gangguan kelistrikan.

Pada kasus ekstrem, dapat terjadi gangguan irama jantung yang berdampak pada kematian mendadak karena adanya kerusakan jantung.

“Pada kondisi penebalan otot jantung, pengisian darah (di jantung) terganggu sehingga pasien akan mengeluh cepat capek atau sesak napas, dan pada kondisi berat terjadi gangguan pompa jantung.”

Di samping itu, Ario juga mengungkapkan bahwa obesitas memiliki beberapa konsekuensi lain, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes yang berujung pada penyakit kardiovaskular.

Oleh karena itu, Ario menyarankan agar pria menjaga lingkar pinggangnya tidak melebihi 94 cm dan perempuan tidak melebihi 80 cm.

Menerapkan diet sehat dengan asupan makan seimbang gizi, olahraga yang teratur dan terukur, dan bebas rokok menjadi kunci penurunan risiko penyakit kerusakan jantung. (ardhan/dbs)

Puji Rahman Hakim Perindo
Baca Berita Lainnya

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

ipsum Donec lectus libero dolor. felis nunc tristique Lorem neque. dolor facilisis