Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Tangerang pada Senin (30/5) di RM Jaga Rawa, Jalan KH. Hasyim Ashari, Kecamatan Cipondoh menggelar diskusi publik terkait issu bahaya komunisme gaya baru.
Pada kesempatan itu, A. Jazuli Abdillah, Ketua ICMI Kota Tangerang secara langsung membuka acara yang dimulai pukul 10:00 WIB tersebut.
Menurutnya, acara ini sengaja digelar karena bahaya dan pengetahuan laten ini perlu didiskusikan dari berbagai aspek golongan pemuda dan masyarakat. Maka dari itu kata Jazuli, elemen masyarakat harus secara bersama menguatkan barisan mencegah masuknya gaya faham komunisme baru.
Komunis sebagai ideologi pada mulanya eksis disalah satu negara eropa yakni, Rusia. Dari berbagai penafsiran yang pernah dituangkan, lantaran dinilai adanya sistem yang tidak adil pada masyarakat, kata Arry Patriasurya salahseorang nara sumber.
Tetapi pada perjalanannya tidak berjalan sesuai yang diharapkan mereka. Contohnya pada negara Rusia dan Tiongkok, mereka sekarang ini tidak sepenuhnya memberlakukan sistem komunis.
“Mereka dengan sendirinya sadar karena jika terus menjalankan sistem komunis secara ekonomi negaranya tidak dapat maju seperti negara lain,” ujarnya menegaskan.
Sementara di Indonesia paham komunis tidak bisa diterapkan lantaran banyaknya suku dan adat yang sudah ada lebih dahulu. “Mimpi di siang bolong, karena sudah banyak halangan yang melekat pada masyarakat Indonesia, contohnya Pancasila, dari lima sila itu sudah mengakomodir sistem pemerintahan,” katanya.
Arry kembali menegaskan, dalam sistem yang dianut mereka tidak mengenal tuhan, hal ini tidak sejalan dengan prinsip di Indonesia, tandasnya.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Amin Munawar menegaskan bahwa komunisme tidak sejalan dengan pemenuhan prinsip apapun karena pergerakan mereka identik dengan cara kekerasan.
“Penyebaran mereka juga dengan kegaduhan, jadi ada pelarangan ekspansi ideologi. Selain itu, titik paling depan yang dipriotitaskan salahsatunya soal ekonomi yang menyamaratakan,” ucapnya.
Karenanya kata Amin, harus dipertegas menangkal bahaya komunisme oleh para pemuda. Pemuda adalah ujung tombaknya. “Kita isi peluang ini untuk menata dan menghadang peluang masuknya komunisme baru,” kata Amin.
Tetapi sebelum menangkal gaya komunisme baru ia menegaskan bahwa kita juga tidak harus lupa menengok sejarah. Komunisme gaya lama identik dengan kekerasan. “Mereka mefitnah, berontak dari penerintah sampai akhirnya membunuh masyarakat.”
Ia mulai membangun dan merubah ideologi bangsa indonesia sebagai negara komunis pada tahun 1926 lalu kembali pada tahun 1948, tetapi gagal, bahkan Muso berhasil dilumpuhkan dan Amir Syarifudin berhasil ditangkap
Pada tahun 1950 Aidit masuk menyelusup dengan menggunakan partai. Tetapi kembali komunisme yang saat itu dicoba oleh mereka dengan kekerasan kembali dapat ditundukan oleh pemerintah. “Sampai pada tahun 1965 dapat dikatakan mereka juga gagal memperdaya kita,” ujarnya menjelaskan.
Sekarang ini, kata Amin melanjutkan dengan adanya perubahan gaya komunisme ditenggarai mereka sudah menyusup ke beberapa elemen. Artinya kewaspadaan faham komunis masuk ke setiap sendi masyarakat harus tetap diwaspadai, tandasnya.
Acara yang berlangsung pada pagi itu dibantu moderator Gery Azhari. Panitia memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya seputar paham komunisme. Sekitar 200 orang peserta yang terdiri dari berbagai utusan mahasiswa, OKP, perwakilan santri dan siswa di Kota Tangerang tersebut terlihat antusias penting memperdalam paham komunisme sebagai bekal pengetahuan. (aceng)







