Peneliti lembaga survey Indo Barometer (IB) beberapa waktu lalu menilai, ‘pekerjaan rumah’ Rano Karno (RK) untuk meningkatkan elektabilitas sebagai bakal calon (Balon) incumbent dalam perhelatan Pilkada Banten 2017 Banten mendatang adalah meningkatkan kepuasan pelayanan masyarakat.
Hadi Suprapto Rusli, peneliti IB pada Rabu (1/6/2016) lalu memang sebelumnya sempat membeberkan hasil surveynya memperlihatkan saingan terberat RK di Pilgub Banten nanti adalah Wahidin Halim (WH), mantan Walikota Tangerang dua periode.
“PR Rano hanya ditingkat kepuasan, jadi jika di sisa masa jabatannya Rano meningkatkan pelayanan, maka Rano akan tetap kuat,” paparnya.
Menarik ditelisik, karena dinamika perhelatan politik lima tahunan di Banten ini akhirnya mendapat respon beragam.
Fajar S Tamin, peneliti lain asal Jaringan Survey Indonesia (JSI), beranggapan, RK sebagai incumbent alias Gubernur Banten saat ini, jika mengurutkam pernyataan IB justru menunjukan kelemahan yang dimiliki sang incumbent.
“Pada statemen ini peneliti tidak menyadari bahwa sesungguhnya yang terjadi tingkat kepuasan terhadap RK rendah.”
Lantaran tingkat kepuasan adalah indikator untuk seorang incumbent apakah ia kuat atau mudah dikalahkan, jika kepuasan rendah maka tidak begitu sulit bagi lawan untuk mengalahkannya.
“Jadi incumbent Banten tidak patut berbangga dengan capaian seperti itu lantaran peneliti cenderung tidak detail dan konfrehensip dalam mengkaji data,” ujarnya.
Pasalnya kata Fajar beralasan, dengan pertanyaan elektabilitas terbuka RK hanya mendapatkan sekitar 18,8%. Sebagai seorang incumbent (kekuatan gubernur yang masih menjabat, red) tentu angka ini sangat rendah.
“Survey ditujukan ke RK bukan strong incumbent. Apalagi jika incumbent sudah dikenal sangat luas oleh rakyatnya, misalkan RK sudah dikenal masyarakat mencapai angka 99%, seharusnya elektabilitasnya mencapai 40%,” paparnya.
Elektabilitas RK sekitar 30 an %, sedangkan orang yang mengenal RK hampir 100%. Tidak sebanding, dapat diartikan mayoritas publik Banten tidak menginginkan seorang incumbent untuk menjabat sebagai Gubernur kembali.
Lebih dalam menurut Fajar, pengalaman disejumlah daerah kondisi incumbent sangat rawan jika dalam elektabilitas terbuka sebagai incumbent masih berkisar diangka 18.8% saja.
“Persoalannya beda kalau saya kasih contoh Airin Rachmi Diany saat Pilwalkot Tangsel lalu. Airin saat itu tingkat kepopulerannya mencapai angka 99%. Dan elektabilitasnya bertengger memenuhi 60%. Nah kalau dalam posisi ini, incumbent harus berbangga duduk lebih tenang,” ujarnya menegaskan, Sabtu (4/6).
Jika ketika peneliti tersebut mendorong RK mencapai tingkat elektabilitas lebih tinggi lagi, menurut Fajar, dari sisa waktu yang dimiliki incumbent untuk memperbaiki elektabilitas pasti sulit ditembus lantaran sisa waktu yang ada tinggal beberapa bulan saja.
“Sulit rasanya karena masa jabatannya nanti akan terpotong dengan cuti. Apalagi data dari Kemenpan RI bahwa saat ini angka prestasi RK dalam memimpin Banten disebutkan tidak mengantongi kelebihan prestasi ketimbang Gubernur sebelumnya. Ini dirasakan masyarakat secara langsung.”
Kemudian kata Fajar, pada survei Indo Barometer dikatakan WH menjadi pesaing terkuat dengan elektabilitas sekitar 20% an. “Dalam hal ini, WH saya yakini saat survei turun lapangan popularitas WH jauh lebih rendah dibawah RK. Misalkan jika saja RK dikenal oleh hampir 100% dan WH dikenal oleh 60%.
Tetapi ini berarti ada sekitar 40% publik yang memungkinkan tidak memilih RK tapi cenderung memilih WH,” katanya beralasan.
Jika WH kedepan dalam sisa waktu ini berhasil mensosialisakan dirinya mencalonkan dalam Pilkada lantas Wakil Ketua Komisi II DPR-RI itu menyatakan sudah menorehkan prestasi sejak ia menjabat Walikota Tangerang dua periode, maka dengan sendirinya masyarakat yang haus sentuhan pemerintah daerahnya tidak menutup kemungkinan akan memilihnya (WH).
Fajar mengakui bahwa situasi ini tidak apple to apple (ada ketidak seimbangan, red). “Maka jika dilihat dari potensi, WH lebih dapat mengungguli RK. Dengan catatan seperti yang tadi saya bilang, WH dengan timnya harus gencar bersosialisasi.”
Dan apalagi disebutkan bahwa tingkat pengenalan dan kesukaan terhadap WH hasilnya cukup tinggi, ditambah yang tidak menyukai RK lebih memilih WH.
“Dalam hal ini saya menyimpulkan bahwa tingkat resistensi publik terhadap RK cukup tinggi dan WH menjadi jawaban atau antithesis dari publik yg resisten terhadap RK, itu tanggapan saya sebagai peneliti terkait atas survey tersebut.
Sementara Rano, Gubernur Banten yang digembar gemborkan maju lagi di Pilgub 2017 mengaku kaget dengan hasil survei tersebut.
“Jujur saya kaget, karena baru dengar. Kalau itu bagian hasil survei, saya terima kasih kepada masyarakat, bukan berarti besar kepala, tapi dengan ini masyarakat setidaknya sudah paham soal elektabilitas,” kata pemeran si Dul ini mengungkapkan pekan lalu. (wahyudi)







