Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Aksi Solidaritas LSF Tangsel Serukan Dukungan Korban Pelecehan Perempuan

0 114

KOTA TANGSEL,PenaMerdeka – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Study Feminisme (LSF) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar aksi solidaritas melawan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan.

Pada aksi yang berlangsung di Jalan Siliwangi nomor 2, Bundaran Universitas Pamulang, Kota Tangsel, Jumat (23/11/2018), peserta aksi menuntut pemerintah untuk memberikan keadilan terhadap korban kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami kaum hawa.

Eva Nurcahyani, Koordinator Aksi mengatakan, dalam penyelesaian kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, proses hukumnya dinilai masih belum memenuhi asas keadilan.

Seperti yang terjadi dengan seorang guru dari Mataram Baiq Nuril, menurut Eva masih ada kejanggalan dari putusan Mahkamah Agung (MA) yang memutuskan bersalah karena didakwa sebagai penyebar konten berbau asusila tanpa melalui upaya hukum banding di pengadilan tinggi.

“Dari putusan pengadilan tingkat pertama, Baiq Nuril dinyatakan bebas murni dan tidak terbukti bersalah melakukan penyebaran konten yang bermuatan kesusilaan, namun jaksa yang menangani perkara ini mengajukan kasasi tanpa banding. Padahal, kasasi tanpa proses sebelumnya yaitu mengajukan banding seharusnya tidak bisa dilakukan,” Kata Eva

Selain Baiq Nuril, Eva menuturkan, pada aksi solidaritas ini LSF Kota Tangsel juga menyikapi kasus yang dialami oleh Agni salah seorang mahasiswi Universitas Gajah Mada (UGM) yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual oleh rekannya saat menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dimana pada kasus tersebut, pihak kampus seolah-olah malah menutupi kasus yang di alami Agni tanpa memprosesnya ke jalur hukum.

Sebagai Dewan Keamanan (DK) PBB tidak tetap, Eva berujar, Indonesia tidak mampu memberikan contoh yang baik dalam menangani bentuk diskriminasi, kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan.

“Ini akan menjadi precedent yang buruk dan semakin memperparah citra buruk bagi negara kita dengan berbagai kasus pelanggaran HAM (masa lalu) yang belum kunjung diselesaikan,” tuturnya.

Kemudian, selain kasus yang dialami Baiq Nuril dan Agni, Eva mengungkapkan, kasus serupa juga dialami oleh Tuti Susilawati, seorang buruh migran asal Majalengka, Jawa Barat yang dihukum mati pada 27 Oktober 2018, karena dituduh telah membunuh majikannya di Arab Saudi.

Padahal, perbuatan Tuti tersebut didasari karena seringnya mendapat kekerasan dan pelecehan seksual dari majikannya yang dibunuh.
Oleh sebab itu, agar kasus serupa tidak terulang, LSF Kota Tangsel mendesak pemerintah untuk melakukan beberapa hal, diantaranya mempercepat pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi UU.

“Pada aksi solidaritas ini kami minta kesadaran pemerintah dan DPR agar segera mengesahkan RUU tentang penghapusan kekerasan seksual. Termasuk agar aparat penegak hukum mempertimbangkan aspek kemanusiaan dalam menjalankan fungsinya, serta mengajak masyarakat untuk perduli dengan kasus-kasus yang menjadikan perempuan sebagai korban,” pungkasnya. (ari tagor)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...