Helmy Halim ads

P2TP2A Kota Tangerang Mencatat 88 Kasus terkait Perempuan dan Anak

0 621

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangerang Harisudin mengungkapkan, selama tahun 2108, terdapat 88 kasus terkait perempuan dan anak.

Jumlah tersebut merupakan hasil yang tercatat di P2TP2A selama Bulan Januari hingga Desember 2018.

“Ada 88 kasus yang ditangani P2TP2A, diantaranya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ada 27 kasus, perkosaan anak 16, pencabulan anak 13, pencabulan dewasa 4, kekerasan anak 7, dewasa 2 dan lainnya ada 19 kasus,” ungkap Harisudin kepada PenaMerdeka.com melalui telpon selulernya, Jumat (28/12/2018).

Untuk kasus KDRT, Harisudin mengatakan, selama ini dapat diselesaikan dengan mediasi saja. Karena, pihak keluarga beralasan, apabila sampai ke jalur hukum, mereka khawatir akan menimbulkan masalah baru.

“Kalau sampai ke jalur hukum, isterinya takut, nanti yang mencari nafkah siapa serta alasan lain dari keluarganya,” katanya.

Untuk kekerasan seksual terhadap anak, Harisudin menuturkan ada 4 kasus yang sudah didampingi pihaknya sampai tingkat pengadilan.

Beberapa kasus lainnya, lanjut Haris, ada yang masih berproses karena pelaku melarikan diri, dan ada juga yang dapat diselesaikan dengan mediasi yang dilakukan oleh keluarga kedua belah pihak.

“Kalau sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak kita tidak bisa ikut campur. Artinya, itu sudah menjadi keputusan keluarga, kita ga bisa masuk ke ranah itu, kalau kita lebih dominan menangani kasus pelecehan seksual dengan kekerasan, seperti pemerkosaan,” tuturnya.

Untuk klasifikasi pelecehan, Haris menjelaskan bukan hanya saja tersentuhnya bagian tubuh korban dengan cara pemaksaan. Tetapi, walaupun didasari suka sama suka antara korban dengan pelaku, apabila pihak keluarga tidak suka, maka bisa termasuk kategori pelecehan juga.

“Misalkan kekerasan seksualnya dilakukan oleh pacar si korban, karena pihak keluarga tidak ingin bertele-tele, pihak keluarga lebih memilih untuk mengawinkannya,” jelasnya.

Selain pelecehan dengan menyentuh tubuh korban, Haris memaparkan, ada juga pelecehan secara verbal, yaitu melecehkan dengan menggunakan perkataan seperti yang terjadi kepada Ibu Baiq Nuril beberapa waktu lalu.

Karena di bahasa hukum, baik di kepolisian maupun kejaksaan tidak ada bahasa pelecehan verbal, untuk itu Ia berujar, pihaknya terus berdiskusi dengan penasehat hukum.

“Kalau untuk pelecehan secara verbal, kita masih berdiskusi dengan Lawyer karena sulit untuk dibuktikan oleh pihak kepolisian. Tetapi, kalau pelecehannya sudah dengan tindakan seperti pegang-pegang itu sudah masuk ke delik hukum, tinggal diperkuat dengan barang buktinya,” paparnya.

Untuk mengurangi kasus yang membuat perempuan dan anak sebagai korbannya, Haris mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak segan-segan melaporkan ke P2TP2A Kota Tangerang.

Karena menurutnya, P2TP2A mampu membantu menyelesaikan masalah terkait perempuan dan anak bukan hanya melalui jalur hukum saja, tetapi ada upaya lain yang bisa dilakukan untuk mencari solusi tersebut.

“Kalau di kami, keluarga korban bisa minta opsi lain, apa hanya berupa konseling saja, atau ingin membuat efek jera kepada suami yang melakukan kekerasan.Tetapi kalau untuk kasus pemerkosaan kami dorong hanya untuk melalui proses hukum,” pungkasnya. (ari tagor)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Zulfikar turut berduka
Disarankan
Loading...