19 Gempa Bumi Tektonik Terjadi di Wilayah Banten

SELAMA PEKAN KETIGA SEPTEMBER 2019

0 221

Relatif Lebih Rendah Dibandingkan Minggu ke-4 Agustus

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Selama pekan ketiga bulan September 2019, di wilayah Banten dan sekitarnya telah terjadi gempa bumi tektonik sebanyak 19 kali.

Aktivitas kegempaan minggu ke-3 September 2019 relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan minggu ke-4 Agustus dan minggu ke-2 September 2019 (grafik-1).

Kepala BMKG Tangerang, Suwardi mengatakan, hasil analisa pihaknya menunjukkan kekuatan gempabumi yang terjadi bervariasi dari M1.9 hingga M5.9.

Jumlah Kejadian Gempabumi di Wilayah Banten dan Sekitarnya Periode Minggu ke-4 Agustus s.d Minggu ke-3 September 2019.

“Sebaran pusat gempabumi (episenter) kebanyakan berada di laut Barat Laut Provinsi Banten,” terang Suwardi seperti keterangan tertulisnya kepada penamerdeka.com, Minggu (21/9/2019).

Ia merinci, gempabumi kekuatan 3 ≤ M ≤ 5 cukup dominan sekitar 57% (11 kejadian), diikuti gempabumi kekuatan M < 3 sebesar 40% (6 kejadian), serta gempabumi dengan M > 5 sebesar 3% (2 kejadian).

Prosentase kejadian gempabumi berdasarkan Magnitudo Periode 13 s.d 19 September 2019.

Dari 19 kejadian itu tidak terdapat gempabumi dirasakan maupun merusak. Gempabumi itu hanya tercatat oleh seismograph (alat pencatat gempabumi) saja,” ucapnya.

Kata dia, kesiapsiagaan harus selalu dikedepankan meski aktivitas kegempaan Minggu ke-3 September cenderung rendah dibanding dengan minggu sebelumnya, mengingat Banten dan sekitarnya berada di jalur kegempaan yang cukup aktif.

“Gempabumi yang berpotensi menyebabkan kerusakkan di Banten dan sekitarnya bersumber dari sekitar Selat Sunda yakni sesar Ujung Kulon, Zona Megatrust selatan Banten  serta sesar Semangko,” tuturnya.

Suwardi menambahkan, berlatih menghadapi gempabumi bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Pastikan setiap anggota keluarga terampil melakukan perlindungan diri sendiri (drop-cover-hold on).

Anda dapat memanfaatkan benda-benda disekitar mereka seperti helm, kolong furnitur yang kuat untuk melindungi kepala dan leher mereka dari potensi terkena reruntuhan bangunan.”

“Diharapkan nantinya mereka menjadi terlatih dan reflek melakukannya saat merasakan guncangan gempabumi,” imbuhnya. (hisyam)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan. Penamerdeka.com tidak bertanggung jawab dengan isi komentar, tulisan komentar sepenuhnya tanggung jawab komentator sesuai aturan UU ITE