HGN ads Bekasi

Mahasiswi ITB Juara Pertama Sayembara Architecture Carnival 1.0 Desain Taman Bermain Untuk Difabel

0 118

BANDUNG,PenaMerdeka – Mahasiswi Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih juara pertama pada Sayembara Architecture Carnival 1.0.Yang diselenggarakan UIN Maulana Ibrahim Malang pada 26 Oktober 2019 lalu.

Tim beranggotakan Azizah Rahmazahra dan Rafidah Azzar Dea, menjadi juara dengan mendesain taman bermain yang diperuntukkan bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Sayembara Architecture Carnival 1.0 berbeda dengan lomba desain secara umum. Kali ini lomba tersebut memiliki fokus untuk menunjang fasilitas anak-anak berkebutuhan khusus.

Azizah mengatakan, desain tersebut berangkat dari permasalahan mengenai hak-hak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang belum terpenuhi, yakni pendidikan dan hiburan. Atas dasar itu, Dia dan Dea mengusung ide mengenai taman bermain yang edukatif dan inklusif dengan menggabungkan peran Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai fasilitas pendidikan dan taman bermain sebagai fasilitas penunjang.

“Kami banyak berdiskusi dan meminta masukan dari banyak pihak, kemudian kami elaborasikan ide yang masuk, kami sesuaikan dengan keadaan lapangan dan faktor terpenting, yakni kesesuaian terhadap pengguna,” kata Azizah, seperti dilansir dari laman resmi ITB, Kamis (21/11/2019)

Kemudian, Azizah menuturkan, disain ini mengusung konsep utama modular. Konsep modular memungkinkan untuk diaplikasikan dan dipasang dimana dan oleh siapa saja serta memungkinkan juga untuk mengubah tata letak secara teratur karena modular dapat disusun-pasang seperti permainan lego.

Selain itu, tambah Azizah, instalasi modular ini berbahan dasar kayu sehingga memungkinkan masyarakat lokal untuk membangunnya tanpa memerlukan tenaga khusus

“Dengan space yang tersedia, kami berpikir untuk mengoptimalkan area serta dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi, sehingga muncul ide KUMCAH-KUMCAH atau Kumpul Bocah-Bocah ini,” tuturnya.

Sementara, Dea menjelaskan, KUMCAH-KUMCAH menjadi solusi dari beberapa masalah yang diangkat. Seperti inklusivitas, kebutuhan (studi, bermain, dan penyembuhan), partisipatif, estetika, lokalitas, fleksibilitas, dan keberlanjutan.

“Desain taman bermain ini juga telah memenuhi standar bagi pengguna difabel, sehingga siapapun dapat mengakses instalasi ini,” jelasnya.

Kemudian, Dea memaparkan, dalam Kumcah-Kumcah tersebut juga dipasang rumah burung sebagai unsur healing bagi pengguna.

Selain itu, terdapat pula ruang potensial yang multifungsi sehingga dapat meningkatkan kreativitas dan kebebasan pengguna dalam memanfaatkan ruang.

“Kami tidak hanya ingin mendesain ruang, kami juga ingin menimbulkan perasaan senang dan nyaman bagi pengguna. Kami ingin perasaan kami ini tersampaikan melalui instalasi taman bermain ini,” pungkas Dea.

Dengan prestasi yang diraih, kedua mahasiswi ini mengaku senang karena bisa mengembangkan ide menjadi suatu karya yang bisa membawa manfaat untuk banyak orang.

“Pengalaman berharga ini telah mengajarkan banyak hal pada pada kami, semoga mahasiswa lainnya juga tidak merasa takut dan ragu dalam berkarya,” tandas Azizah. (ari tagor)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan. Penamerdeka.com tidak bertanggung jawab dengan isi komentar, tulisan komentar sepenuhnya tanggung jawab komentator sesuai aturan UU ITE