HUT RI 76

Melongok Sejarah Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang

KOTA SERANG,PenaMerdeka – Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang, ternyata memiliki artinya sebuah perjuangan. Dimana miliki makna sejarah tentang icon Kota Serang, dalam melawan belanda.

Berdasarkan informasi dari masyarakat Pegantungan, yang berada di sekitar Masjid Ats-Tsauroh. Pada tahun 1930, saat itu salah seorang pejabat di Pandeglang bernama Raden Basudin Condronegoro mewakafkan sebidang tanah seluas 2,6 Hektar (HA).

Pada tahun itu pula, dikatakan
Ketua Umum Organisasi Pemuda Banten Bergabung, Dede Dea Ferdhiyana. Ia menceritakan, para ulama serta tokoh terdahulu datang kepada Belanda, untuk meminta izin di bangunkanya masjid di Alun-Alun Kota Serang.

Ia menambahkan, Namun, penguasa Belanda saat itu tidak mengizinkan. Sebab ada serapan air yang beralur ke kali Banten, apabila di bangun di Alun-alun.

“Untung saja, saat itu tidak terjadi pembangunan Masjid di alun-alun. Kalau tidak, Kota Serang akan terjadi banjir,” ungkap Dede Dea, saat di temui, di Masjid Ats-Tsauroh, Jalan Raya Pegantungan, Kota Serang, Jum’at(28/2/2020).

Berjalannya waktu, hari demi hari. Dede Dea mengungkapkan, Belanda ke daerah Taman Sari, dan disana ditemui tempat prostitusi. Namun, kata dia, dengan kondisi lahan yang tidak memungkinkan, diarahkanlah ditanah wakaf yang ada di Pegantungan.

“Mulailah, pada tahun 1930 di daerah Pegantungan di bangunkan masjid tanpa menara yang dikenal dengan Masjid Pegantungan,” ujar Dede Dea, yang duduk di teras depan halaman Masjid Ats-Tsauroh.

Tak sampai disitu, Dede Dea melanjutkan ceritanya. Ia menerangkan, tahun berganti tahun, dan saat itu Pasca G30S/PKI direnovasi kembali dan diberi menara oleh Bupati TB Suwandi dan ditata ulang oleh Tokoh Masyarakat sekaligus Kontraktor yang dermawan bernama Mulya Syarief, ayahanda dari Embay Mulya Syarief, dan  Bapak Boentarman.

“Itupun kerjadianya pada tahun 1970an dan diberilah Nama ATS TSAUROH yang artinya Pejuangan. Karena mungkin sebagai salah satu jejak perjuangan rakyat di Kota Serang,” tutur Dede Dea, sambil menyuguhkan segelas kopi hangat.

Setelahnya, sekitar tahun 1990. Masih kata Dede Dea, di renovasi ulang, dan diresmikan pada 1994 oleh Gubernur pertama, di Jawa Barar, R. Nuriana. “Hingga saat ini belum ada bentuk bangunan masjid yang berubah,” jelasnya.

Kemudian waktu pun berlalu, dan tahun terus berganti. Dede Dea mengaku gembira, setelah mendapatkan kabar Masjid Ats-Tsauroh mau dijadikan Masjid Agung Kota Serang pada tahun 2020.

Ia mewakili masyarakat di Kota Serang mengucapkan, terima Kasih kepada Pemerintah Kota Serang yang telah menetapkan Masjid Agung Ats Tsauroh Pegantungan sebagai Masjid Agung Kota Serang.

“Ini sudah selayaknya, Masjid Ats-Tsauroh ditetapkan menjadi Masjid Agung Kota Serang dengan kondisi dan tempat yang strategis ditengah Ibu Kota Banten. Saya juga berkeinginan mengajak kepada semua pihak, khususnya saya sendiri serta warga lingkungan terdekat Masjid untuk sama menjaga maupun merawat peninggalan orang tua kita terdahulu. Jangan sampai kita dicap sebagai penerus yang lupa akan perjuangan prasejarah,” tutup Dede Dea. (Aden)

Disarankan
Click To Comments