HUT RI 76

Curhatan Tenaga Medis di Hari Kartini: Was-was Covid-19, Jengkel Lihat Pemuda Masih Nongkrong Keluyuran

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Rumata Mestika (37), tenaga medis di Rumah Sakit Primaya Hospital, Jalan MH Thamrin, Panunggangan Utara, Pinang, Kota Tangerang.

Rumata saat ditemui wartawan pada Selasa (21/4/2020) sambil tersender lemas didepan lobi rumah sakit, mengeluarkan unek-unek isi kepalanya di tengah wabah pendemi virus corona (Covid-19).

“Takut, stres sudah pasti, setiap hari was-was dan takut tertular Corona yang pasti ya,” curhat Rumata yang sudah berbulan-bulan menghadapi Covid-19 secara langsung.

Dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dari atas sampai bawah, terlihat keringat bercucuran dari wajahnya yang tertutup masker.

Berjam-jam, ia sudah memeriksa ribuan orang yang ingin melakukan drive thru rapid sambil mengenakan APD di tengah panasnya cuaca Kota Tangerang.

Namun, tidak sedikit keluhan yang terlontar dari mulutnya seakan menggambarkan semangat yang membara dari RA Kartini saat melawan penjajah di Indonesia.

“Kebetulan kakak dan ada keluarga yang memang tenaga medis juga jadi semua support dan saling mendoakan. Pokoknya setiap sebelum kerja kita panjatkan doa,” ucap Rumata.

Sembilan tahun berkiprah di dunia kesehatan, baru kali ini membuat kartini asal Tangerang tersebut was-was dalam bekerja.

Bagaimana tidak, setiap harinya rata-rata ia memeriksa dan mengambil darah 60 orang bahkan lebih orang yang ingin melakukan Rapid Test.

Terlebih sekarang banyak orang yang sebenarnya positf Covid-19 tapi tidak menunjukan gejala.

“Bukan takut tapi was-was sekali, tapi sekali lagi kita ini kan tugas dan kewajiban kita disumpah, enggak bisa menghindari itu. harus tulus dari hati ya,” tutur Rumata.

Covid-19, menjadi sebuah kata yang selalu terbesit di benaknya. Bahkan, selama sembilan tahun ia baru pertama kali ini merasa nyawa di ujung tanduk.

Meski ia sudah pernah beberapa kali berhadapan langsung dengan penyakit-penyakit yang sama mematikannya dengan Covid-19.

“Baru kali ini takut, kalau biasa itu dengan penyakit lain mah aduh biasa saja ya. Kali ini benar-benar harus mematuhi protokol kesehatan bahkan lebih ketat,” curhat Rumata.

Sambil mencuri dinginnya AC di sela-sela pintu rumah sakit yang tertutup rapat ia berharap pandemi ini cepat berakhir.

Dengan nada tinggi Rumata geram ketika mengetahui masih ada anak muda yang egois keluar rumah tanpa mengindahkan Covid-19.

Kerja di tengah Kota Tangerang membuka matanya betapa masyarakat tidak serius memberantas Covid-19.

Melihatnya, tumbuh pikiran kalau ia harus bermental baja dan berbadan besi untuk terus bekerja keras kalau masyarakat tidak mau diedukasi.

Tak lupa, Rumata juga berpesan kepada seluruh masyarakat, terutama anak muda jangan keluar rumah atau berkerumun di tempat umum saat pandemi seperti ini.

“Untuk masyarakat terutama anak muda ya saya jengkel sekali kalau masih ada yang nongkrong-nongkrong di tempat umum. Itu sama sekali enggak membantu kita apa lagi meringankan kerja kita,” keluh Rumata.

“Karena enggak mungkin kami memilih-milih pasien karena status, semua kami layani dan obati sampai sembuh. Jadi tolong sebentar saja untuk patuh sama pemerintah,” sambungnya. (hisyam)

Disarankan
Click To Comments