JAKARTA,PenaMerdeka – Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026, setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), dan Iran hingga memicu kembali kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Namun, kenaikan harga minyak tertahan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran mengajukan permintaan pertemuan dengan Washington di Doha, Qatar.
Seperti melansir dari Investing.com pada Selasa (30/6/2026), kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September naik 0,7 persen menjadi USD73,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Agustus menguat satu persen menjadi USD70,44 per barel.
Pada pekan sebelumnya, kedua kontrak tersebut sempat anjlok lebih dari sembilan persen seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Sentimen pasar kembali berubah setelah muncul laporan mengenai meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran selama akhir pekan.
Trump mengatakan Iran telah mengajukan permintaan pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Doha pada Selasa.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Utusan Khusus AS Steve Witkoff akan menghadiri pertemuan tersebut. Namun, media pemerintah Iran membantah adanya agenda perundingan dengan AS dalam waktu dekat.
Analis ANZ menilai ketenangan di pasar minyak masih berpotensi terganggu apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
“Meskipun kesepakatan AS-Iran menjadi titik balik bagi pasar minyak, pemulihan pasokan diperkirakan berlangsung secara bertahap karena masih terdapat hambatan pada infrastruktur dan rantai distribusi,” tulis analis ANZ.
Di sisi lain, Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve (SPR) diperkirakan turun sekitar 5,5 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Juni.
Dengan penurunan tersebut, total cadangan minyak strategis AS diperkirakan berada di level 325,7 juta barel atau menjadi yang terendah sejak Mei 1983.







