Ini Penyebab Partisipasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Rendah

JAKARTA, PenaMerdeka – Muhadjir Efendi, Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI menyebutkan banyak faktor kenapa angka partisipasi pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tercatat masih rendah. Faktor tersebut disebabkan karena masih minimmnya sarana prasarana dan juga keengganan keluarga menyelohkan anaknya yang berkebutuhan khusus.

Menurut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang bahwa saat ini partisipasi pendidikan bagi anak anak ini masih tergolong rendah, sekira 18 persen. Mendikbud berjanji akan memperhatikan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

“Ini menjadi amanat Negara, bahwa pendidikan untuk semua dan pendidikan harus merata, berkeadilan dan antidiskriminasi,” kata Muhadjir saat berkunjung ke SDN Lebak Bulus 2 Jakarta Selatan, Rabu (01/01).

Saat berkunjung ke SDN Lebak Bulus itu, Muhadjir Efendi (Mendikbud) juga menyempatkan bernyanyi bersama dengan salah seorang anak berkebutuhan khusus bernama Alma Arsita Nursyarif. Bahkan siswa kelas 3 SDN Lebak Bulus 2 Jakarta Selatan itu tak pernah menyangka bakal bernyanyi bersama seorang menteri.

Karena secara mendadak Muhadjir mampir dan menyaksikan murid latihan menyanyi untuk persiapan acara Maulid Nabi di halaman sekolah.

Lagu Insya Allah milik Maher Zein pun mengalun merdu dinyanyikan Caca bersama Muhadjir. “Insya Allah….Insya Allah…Insya Allah…ada jalaan,” demikian penggalan lagu itu.

Nampak mata Muhadjir berkaca-kaca saat beryanyi bersama Caca. Usai bernyanyi bersama, Muhadjir mendekati Caca dan terlibat obrolan sambil sesekali menyeka matanya yang basah.

“Saya senang sekali bisa nyanyi dan diajak ngobrol pak Menteri,” ujar Caca yang menerima sejumlah uang pembinaan dari Mendikbud.

Caca adalah satu dari sekira 1,6 juta anak berkebutuhan khusus (ABK) usia sekolah.

Sebelumnya, Mendikbud menghadiri pencanangan Kemitraan 1 in 11 antara Kemdikbud, UNICEF, FC Barcelona dan Reach Out to Asia (ROTA) di SLB Pratama tal jauh dari SDN Lebakbulus 2.

Metodologi FutbolNet merupakan metode pendidikan lewat kekuatan olah raga untuk siswa ABK. Metode ini dikembangkan hasil dari kemitraan antara UNICEF, FC Barcelona, dan ROTA.

Ia mengakui penanganan ABK tidak bisa dilakukan sendiri oleh Kemdikbud. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan. (herman/dbs)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kota Tangerang 2019

Disarankan
Dirgahayu RI 73 Jazuli Abdillah