Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Begini penjelasan Rahmawati Soekarnoputri soal Perdamaian Semenanjung Korea

0 95

Perdamaian semenanjung Korea bisaJAKARTA,PenaMerdeka – Presiden Moon Jae-in diperkirakan akan mengambil sikap bersahabat untuk perdamaian semenanjung Korea yang kurang lebih sama dengan dua pendahulunya, Kim Dae-jung yang berkuasa antara 1998 hingga 2003 dan Roh Moo-hyun (2003-2008).

Seperti diketahui, ketegangan di Semenanjung Korea masih berlanjut. Sempat terjadi penurunan suhu ketegangan beberapa saat setelah pemerintahan baru di Republik Korea atau Korea Selatan terbentuk.

Namun, keberhasilan uji coba peluru kendali antar benua atau Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) Hwasong-14 yang dilakukan Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara awal Juli lalu kembali meningkatkan suhu ketegangan sehingga upaya perdamaian ini sempat terganggu.

Terlepas dari perkembangan terakhir itu, menurut Ketua Kehormatan Panitia Reunifikasi Damai Korea, Rachmawati Soekarnoputri, tetap ada peluang perdamaian abadi bagi kedua negara tersebut.

Rachma menyampaikan keyakinannya akan terjadi perdamaian usai melakukan pertemuan dengan diplomat senior Kedutaan Besar Korsel, Kim Sang-bum, yang mengunjungi Rachma di ruang kerjanya di Universitas Bung Karno (UBK), di Cikini, Rabu siang (12/7).

Menurut Rachma, perdamaian semenanjung Korea secara abadi dan reunifikasi adalah kewajiban konstitusional yang diemban kedua negara.

Merujuk pada pertemuan pemimpin kedua negara di tahun 2000, Rachma mengatakan, sudah ada kesepakatan ke arah penyatuan damai tanpa keterlibatan kekuatan asing.

“Saya yakin, masih ada peluang bagi Korea Utara dan Korea Selatan untuk bersatu dan menciptakan perdamaian semenanjung Korea secara abadi. Kita perlu tetap menjaga optimisme itu dan memberi kesempatan kepada kedua negara menyelesaikan persoalan perdamaian yang secara independen tanpa gangguan dari negara lain,” ujar putri Bung Karno itu.

Dalam pertemuan itu Rachma didampingi oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Lemlitbang) UBK, Eko Surjosantjojo, Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea (PPIK) Ristiyanto dan Sekjen PPIK Teguh Santosa.

Rachma menilai, wajar apabila dunia internasional khawatir melihat kemampuan persenjataan Korea Utara akhir-akhir ini.

Tetapi di sisi lain, harus dipahami pula bahwa sebagai sebuah negara yang terisolasi dan dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan besar di sekitarnya, Korea Utara merasa perlu untuk mempersenjatai diri diluar pertimbangan untuk perdamaian Korea.

“Ini security dilemma (dilema keamanan). Suasana ingin perdamaian semenanjung Korea tidak bisa dibebankan hanya kepada Korea Utara. Pihak-pihak lain yang selama ini menggelar kekuatan di Semenanjung Korea juga punya kewajiban yang sama,” sambung mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu menjelaskan.

Sementara menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan UBK, Eko Surjosantjojo, pihaknya mengaku dihubungi Kedutaan Korsel.

Minister Kim Sang-bum datang untuk menyerahkan salinan pernyataan Presiden Moon Jae-in yang disampaikan di Berlin, Jerman, pekan lalu, yang berisi komitmen perdamaian semenanjung Korea.

Dalam pernyataan itu Moon Jae-in menyampaikan kekecewaan atas uji coba ICBM yang dilakukan Korut. Moon mengatakan, Korea Selatan tidak ingin melihat Korea Utara hancur (collapse) dan tidak ingin penyatuan kedua negara terjadi dengan absorbsi atau penyerapan (unification by the other).

Di saat yang sama, Moon Jae-in juga mengatakan mereka tidak akan melakukan unifikasi dengan kekuatan bersenjata.

“Mr. Kim (Sang-bum) ingin menemui Ibu Rachma setelah membaca berita bahwa Ibu Rachma akan berkunjung ke Korea Utara dan bertemu dengan Presiden Korut. Mr. Kim memohon agar Ibu Rachma berkenan menyampaikan isi dari pernyataan Presiden Moon Jae-in dalam pertemuan dengan Presiden Kim Yong Nam nanti soal perdamaian semenanjung Korea,” ujar Eko. (yuyu)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
HPN
Loading...