Jazuli Abdillah Selamat Idul Fitri

Menanti Energisitas Pemuda Banten

0 31

Banten membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memberi harapan, namun juga mengeksekusi kebijakan. Wajah politik Banten mutakhir adalah politik tanpa refleksi. Kini pasca Pilgub Banten ada harapan energisitas pemuda bisa terealisasi.

Karena biasanya visi-misi seolah hanya dijadikan alat kampanye untuk meraih simpati saja, bukan sebagai instrumen utama untuk menentukan arah kebijakan daerah. Pertarungan politik antara calon gubernur – calon wakil gubernur Banten di pilgub 2017 kemarin telah usai menjadi babak penting dalam menentukan arah Banten ke depan.

Banten membutuhkan pemimpin yang muda, kuat, berani, energik, visioner sekaligus memahami aspirasi sehingga energisitas pemuda dan rakyat dapat diakomodir. Pemimpin yang duduk di menara gading yang hanya bertopeng citra dan “bermain sinetron”, sejatinya adalah mereka yang membelakangi kehendak rakyat.

Justru, pemimpin yang tiap hari bergulat keringat dan berjibaku dengan problem mendasar warganya yang dibutuhkan oleh Banten ini. Sudah terlalu banyak pemimpin yang bisa bicara, main drama (bersinetron), namun sedikit yang mampu mendengar keluhan dan aspirasi nurani rakyatnya.

Tetapi, pemimpin yang merakyat tidaklah cukup. Gubernur yang kuat dan mampu mengeksekusi kebijakankebijakan yang pro-rakyat sangat dibutuhkan karena Banten ini akan berada dalam gelanggang persaingan global (MEA).

KONSTELASI PILGUB BANTEN 2017

Di Banten, ada figur muda Andika Hazrumy (31 Tahun), di usianya yang relatif muda saat ini menjadi salah satu calon yang telah diperhitungkan pada Pilgub banten 2017 lalu.

Energisitas pemuda yang dialamatakan ke Andika bukan tanpa sebab, karena di usia yang cukup muda ia mampu hadir dalam percaturan politik yang berjalan secara ketat dan demokratis.

Kehadiran Andika Hazrumy dalam daftar calon wakil gubernur Banten 2017 dari partai Golkar yang berpasangan dengan Wahidin Halim, adalah sesuatu yang menarik.

Dalam konteks lokal Banten, kelahiran Andika Hazrumy “telah” menjadi sebuah ekspektasi publik yang harus kita dorong sebagai agenda publik.

Setelah suksesi kepemimpinan Pilgub 2017, muncul pemikiran kuat untuk memberikan kesempatan kepada kalangan muda untuk meneruskan kepemimpinan Banten.

Terkenang, pada waktu itu, diketahui petahana, Gubernur Banten Rano Karno yang diusung oleh PDI Perjuangan yang menentukan pasangan calon wakil gubernur dalam Pilgub Banten 2017. WH-AA makin moncer.

Akhirnya dari WH-Andika terbentuklah energisitas pemuda dan senior sehingga didaulat oleh seluruh parpol. Itu disuarakan berbagai elemen. Rakyat dan lembaga survey. Jika parpol-parpol di Banten mengusungnya, WH-AA ditaksir tampil ‘tanpa tanding’. Menang mutlak.

Tapi bagaimana jika ‘dipaksa’ tidak ada lawan? Pasangan WH-AA terus melejit.
Berbagai lembaga survei menempatkan itu. Dan di berbagai kesempatan rakyat terus mengeluelukannya untuk itu.

Dan akhirnya WH-Andika menang. Banten butuh tokoh ikon. Tokoh ikon ini sangat penting, karena Wahidin Halim ingin membuktikan ekspresi politiknya yang masih diminati tokoh publik yang mempunyai basis massa riil.

Terkait hal ini, WH sudah merekrut AA, bahkan AA akan ditempatkan sebagai cagub.
Masuknya Andika barangkali menjadi gebrakan yang menarik. Selain ingin membuktikan WH masih banyak diminati tokoh ikon, WH juga ingin membuktikan bukan tokoh yang kaku. Andika juga dinilai tokoh muda yang mempunyai jaringan luas, bukan saja jaringan struktural, tetapi juga jaringan kultural di Banten.

ENERGISITAS PEMUDA

Karena penulis adalah bagian dari kaum muda. Sejarah kaum muda harus dijadikan sebagai referensi. Sejarah kaum muda tidak hanya bicara organisasi, namun juga sikap dan tindakan para pemudanya.

Prinsip-prinsip inilah yang menjadi referensi penting dan menjadi acuan dalam penyelenggaraan pemerintahan, untuk melindungi segenap kepentingan warganya.

Inilah yang sejatinya menjadi prinsip dasar bagi kaum muda dalam menentukan sikap politiknya. Kaum muda menghargai Perjuangan politik kaum muda, sekaligus pembuktian kemampuan mereka bersaing dengan “wajahwajah lama” harus dilaksanakan dengan proses yang demokratis.

Pilgub Banten 2017 merupakan instrument yang tepat untuk membuktikan eksistensi pemuda. Masih belum maksimalnya peran pemuda dalam kepemimpinan di masa kini harus diakui. Secara positif hal tersebut harus dimaknai dalam konteks refleksi para calon pemimpin politik Banten saat ini.

Memahami konteks dan fakta politik kekinian, kita semua bisa merasakannya dalam berbagai level kehidupan kita.

Minimnya energisitas pemuda lahir lantaran kaum muda nyaris kehilangan kemampuan untuk mendobrak semua ini karena setelah mereka masuk dalam lingkaran kekuasaan, justru mereka hanyut.

Cara berpikir, bertindak, dan berelasi dalam dunia politik nyaris stagnan karena tak ada perubahan. Mentalitas reformis, kreatif, dan pengenalan budaya alternatif hanya ada dalam kata-kata dan tak pernah menjelma menjadi tindakan nyata.

Pemuda dengan kekuatan energisitas, staminasasi, idealitas, dan cita ide gagasan sebuah hidup. Tanpa hitung waktu, pemuda mengisi ruang hidupnya bergulat dengan buku, koran, menulis, diskusi, mobilisasi, dan aksi-aksi nyata.

Ada banyak hal yang harus digenggam dari energisitas pemuda sebagai energi bangsa benar-benar dapat menggema untuk memotori perubahan ke arah “Banten Maju”.

Banten perlu belajar dari kiprah dari  dulu, meskipun dengan kontekstualisasi ulang atas konsep dan strategi politik yang dipraktikkan muda menjadi cermin bagi pemimpin masa depan.

Simpulan dari tulisan “Energisitas Pemuda” adalah prinsip dan upaya kaum muda untuk memajukan Banten, bukan menghancurkan Banten. Banten saat ini membutuhkan pemimpin yang visioner, kuat dan mampu membawa provinsi ini dalam kontestasi global.

Wallahu A’lam Bishawab.

Oleh. Ahmad Baiquni Rahmat AG Tokoh muda Banten

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan