Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Lindungi Anak-Anak Dari Kejahatan Seksual

Rasyid Hidayat, SH, Direktur LBH Tangerang
0 107

Penulis : Rasyid Hidayat, SH
Direktur LBH Tangerang

TANGERANG,PenaMerdeka – Belum lama ini telah terjadi kejahatan seksual di Tangerang yang dilakukan oleh seorang berinisial WS alias Babeh terhadap korban sebanyak 41 orang anak yang rata-rata berusia 10-15 tahun. Modus kejahatannya mirip dengan yang pernah terjadi di Tangerang pada tahun 2010 lalu, pelakunya bernama Baekuni alias Babeh.

Kejahatan model seperti yang menimpa anak-anak di Indonesia saat ini sudah masuk tahap kritis atau darurat. Berdasarkan data yang dirilis oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), tanggal 21 Maret 2017, menunjukkan data yang mengkhawatirkan.

Pada tahun 2015, ada 218 kasus kejahatan seksual yang dilaporkan. Selanjunya, tahun 2016 ada 120 kasus, dan kemudian tahun 2017 ada 116 kasus (http://www.kpai.go.id).

Diperkirakan tahun 2018 ini jumlahnya akan meningkat, karena pada awal tahun ini setidaknya sudah ada dua kasus yang terjadi (republika.co.id), demikian menurut Abdul Haris Semendawai, Ketua LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban).

Kejahatan ini adalah tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan dengan cara memaksa orang lain untuk melakukan kegiatan seksual, yang dapat berupa persetubuhan atau percabulan.

Korban yang disasar oleh pelaku kejahatan seksual beragam. Tidak harus berlainan jenis kelamin, tetapi juga dapat dilakukan terhadap sesama jenis. Sedangkan, ditinjau dari aspek usia, korban tidak hanya orang dewasa. Bahkan, anak-anak yang masih berusia tujuh tahun menjadi korban.

Kita harus lebih waspada dengan kekerasan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Apalagi dengan adanya teknologi informasi, kejahatan ini menjadi “lahan bisnis”. Gambar-gambar porno atau foto anak-anak di bawah umur diunggah (uploaded) melalui internet.

Hal ini dapat diketahui setelah beberapa waktu yang lalu terungkap adanya jaringan internasional Official Loli Candi’s Group sebagai kelompok terorganisasi yang sudah merambah ke Indonesia.

Kejahatan seksual tumbuh subur melalui internet, sehingga disebut kejahatan siber (cybercrime), yang dilakukan dengan cara memberikan informasi, gambar atau foto melalui media sosial (medsos), seperti facebook atau twitter.

Dalam konteks ini, Official Loli Candi’s Group memiliki situs (site) atau laman (websites) yang dikelola oleh admin grup dengan mengunggah konten porno berupa foto atau video. Bagi yang ingin mengunduh (download) membayar biaya, mencapai 15 dolar AS atau senilai dengan 200.000-an rupiah.

Dalam referensi disebut dengan kejahatan pedofil (paedofilia) yang dilakukan oleh pelaku yang memiliki kelainan jiwa. Setidaknya, melakukan perilaku seksual yang menyimpang karena hasrat atau nafsu seksualnya hanya muncul terhadap anak-anak.

Hal ini dapat terjadi karena kejahatan pedofil, menurut psikholog, biasanya dilakukan oleh korban kejahatan pedofil. Seolah-olah ada semacam siklus kekerasan seksual.

Anak-anak korban kekerasan seksual akan mengalami dampak fisik dan psikhologis yang berat. Dampak fisik, tergantung pada kejahatan seksual yang dilakukan. Jika dilakukan persetubuhan terhadap anak perempuan, maka pada alat kelamin (genital) akan terasa sakit, nyeri, dan luka atau setidaknya berwarna merah. Jika dilakukan sodomi, maka pada bagian dubur mengalami luka, terasa sakit dan nyeri. Korban akan mengalami kesulitan ketika duduk atau berjalan.

Dampak psikhologis, dapat berupa perasaan tegang (stress), trauma, cemas, takut, depresi, tidak percaya diri, dan bahkan marah dan dendam terhadap pelakunya.

Ditinjau dari aspek pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak, dapat ditelisik bahwa pelakunya dapat berada dalam lingkungan keluarga secara internal atau secara eksternal, di luar lingkungan keluarga.

Kejahatan seksual dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan oleh saudara kandung atau bahkan orang tua kandung terhadap anaknya. Lazim disebut inses (incest). Seperti yang terjadi di Tangerang baru-baru ini, yang dilakukan oleh ayah kandung berinisial MJ (42) terhadap putrinya yang masih berusia 6 tahun (republica.co.id).

Sedangkan, kasus yang terjadi di luar lingkungan keluarga sangat beragam. Pelaku dan tempat kejadian perkara dapat berada di lingkungan sekolah, yang dilakukan oleh tenaga pendidik atau pekerja kebersihan sekolah dan bahkan ada guru agama yang melakukan kekerasan seksual pada anak didiknya.

Dengan demikian, kejahatan terhadap anak-anak ini dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun.

Kita harus waspada, karena anak-anak sangat rentan terhadap kekerasan seksual. Modus kejahatan seksual terhadap anak-anak sangat beragam bentuknya. Seperti yang dilakukan Babeh yang merayu anak-anak dengan iming-iming, akan diajarkan ajian semar mesem dan ilmu kebal. Untuk itu, mereka disodomi dan harus menelan gotri (biji logam) sebagai syarat (detiknews.com).

Lindungi anak-anak dari kekerasan seksual. Kita jangan terlalu mengandalkan pihak lain. Predator seksual berkeliaran dan dapat terjadi dimanapun.

Oleh sebab itu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kejahatan atau kekerasam seksual terhadap anak-anak adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crimes). Pemerintah telah mengambil tindakan pencegahan dan penanggulangan melalui regulasi yang telah berulang kali diperbaiki.

Sudah sejak tahun 2002, Pemerintah RI telah memberlakukan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Setelah berlaku, ternyata UU Perlindungan Anak 23/2002 dirasakan kurang efektif, sehingga pada tahun 2014 dilakukan perubahan dengan menerbitkan UU Perlindungan Anak 35/2014.

Perubahan yang mencolok adalah penambahan pasal-pasal berkenaan dengan ketentuan-ketentuan tentang larangan dan pidana.

Perubahan itu pun masih dirasakan kurang efektif, karena kasus-kasus kejahatan atau kekerasan seksual terhadap anak-anak bukan berkurang tetapi malah bertambah secara signifikan.

Dalam kaitan ini, pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlidungan Anak.

Perppu itu lebih menitikberatkan pada pemberatan sanksi pidana bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak dengan memberikan tindakan berupa kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, dan rehabilitasi bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Pemberatan sanksi pidana itu bertujuan untuk mencegah agar tidak melakukan kejahatan atau kekerasan seksual terhadap anak-anak. Perppu itu disetujui oleh DPR RI untuk menjadi UU sehingga diterbitkanlah UU No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu 1/2016 Menjadi UU.

Pihak Kepolisian menurut rencana akan mengenakan Pasal 82 UU Perlindungan Anak 35/2014 terhadap WS alias Babeh. Tetapi, menurut hemat saya, Pasal 82 UU Perlindungan Anak 35/2014 sudah diubah oleh UU Perlindungan Anak 17/20016 jo.

Perppu 1/2016 dengan sanksi pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda Rp. 15 Milyar, bagi yang melanggar Pasal 76E UU Perlindungan Anak 35/2014, yaitu: setiap orang yang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...