Pemkab Bekasi ads HPN 2020

Ini Tanda-tanda Pelaku Pedhofilia

0 842

Dalam kamus bahasa Indonesia kontemporer, pedofilia disebut sebagai nafsu birahi orang dewasa terhadap anak anak. Dan Pedhofilia merupakan bagian atau salah satu jenis dari paraphilia.

Yakni kelainan atau penyimpangan seksual, terhadap objek, situasi, atau individu yang tidak lazim.

Yang termasuk paraphilia antara lain ekshibisionisme, masokisme, nekrophilia, dan pedophilia. Pedhofil merupakan penyimpangan seksual yang pelakunya (orang dewasa) memiliki hasrat dan fantasi terhadap anak di bawah umur (di bawah usia 13 tahun).

Pelaku ratarata berumur 16 tahun ke atas. Menurut psikolog anak, Gita Christiana S.Psi,M.Psi, ada tiga karakterisitik penting, seseorang bisa dikatakan sebagai pedhopil.
Pertama, orang dewasa yang sudah memiliki hasrat dan fantasi terhadap anak kecil, selama jangka waktu minimal enam bulan.

Dan ini berlangsung secara kontinyu atau terusmenerus. Kedua, hasrat dan fantasi tersebut mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaannya. Misalnya, kegiatan pelaku yang hobi mengkoleksi foto anak-anak untuk memenuhi fantasinya, jadi menyita waktu, sulit konsentrasi, atau menjadi pribadi yang tertutup.

Ketiga, antara pelaku dan korban, memiliki jarak usia minimal lima tahun. Ini berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder.

Dari semua krikteria tersebut, diikuti dengan mencari korban untuk pemuasan hasrat dan fantasinya. Jenis pelecehannya sendiri, mulai dari menyentuh bagian pribadi atau alat genital korban, meminta korban untuk menyentuh, atau melakukan tindakan tertentu terhadap alat genital pelaku, hingga pelaku yang memasukkan alat genitalnya ke alat kelamin korban. Secara fisik, pedofil tidak memiliki karakterisitik atau kelainan tertentu. Sehingga kita tidak bisa mengenali tanda-tandanya.

Pelaku biasanya laki-laki, meskipun ada juga perempuan, namun jumlahnya sangat sedikit. Secara psikis, mereka biasanya merasa inferior, merasa lebih ’kecil’ daripada orang lain, atau rendah diri. Untuk itu, mereka menyerang anakanak, karena dengan melecehkan anak-anak, mereka bisa merasa superior. “Bisa juga karena ketidakmampuan berhubungan seksual dengan orang dewasa, sehingga mereka mencari korban yang tidak berdaya (anak-anak),” ujar Gita. (aceng/dbs)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disperkimta Tangsel Ads
Loading...