CEK FAKTA Tragedi TPA Cipeucang Tangsel 2020 Aktivis Wanti-wanti, Kerugian PDAM TB Tak Sembarang

PUPR KOTA TANGERANG EKSTRA TANGANI SAMPAH CISADANE

TANGERANG,PenaMerdeka – Tragedi lingkungan Mei 2020 silam akibat longsor TPA Cipeucang, Tangerang Selatan (Tangsel), ke sungai Cisadane berdampak kehidupan banyak. Pengguna air hilir disebut merugi, lalu sejumlah fauna air tawar saat ini sulit ditemukan. 

Aktivis Lingkungan Hidup dan Penggiat Pelestari Sungai Cisadane, Ade Yunus, jauh hari sudah mewanti wanti supaya Pemkot Tangsel bergegas mengambil tindakan terkait kondisi TPA Cipeucang saat ini.

Ade Yunus beralasan, menyusul penghentian proyek pengiriman sampah Tangsel ke TPA Cilowong, Serang, beban sampah di TPA Cipeucang Serpong, Tangsel menumpuk. Sampah otomatis bakal menumpuk dan potensi longsor kembali.

“Ada hajat hidup orang banyak sehingga dalam kondisi ini harus bersifat cepat, cegah dengan langkah yang tepat,” kata Ade Yunus ditemui penamerdeka.com di Banksasuci Cihuni, Pakulonan, Kabupaten Tangerang, Rabu (21/9/2022) malam. . 

Ada masyarakat dan sejumlah kegiatan usaha yang berada dekat sungai. Sebab butuh air Cisadane yang normal. Mereka akan terdampak langsung jika tidak segera antisipasi.

Lalu dua perusahaan pengelolaan air bersih pemerintah daerah, yakni PDAM Tirta Benteng (TB) Kota Tangerang dan PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) milik Pemkab Tangerang juga tidak dapat memaksimalkan air Cisadane jika banyaknya sampah. 

“Dari sekarang kita mewanti wanti lagi, agar peristiwa kelam itu tidak terulang,” kata Ade.

Dia menyebut, saat 2017 sudah memberikan signal soal bahaya berdirinya TPA Cipeucang di dekat sungai Cisadane. Saat itu juga sempat longsor beberapa kali, tetapi yang terbesar saat Mei 2020 lalu.  

Ade Yunus yang akrab disapa Kang AY menyebut yang merugi adalah pengguna aliran hilir sungai. 

SEJUMLAH FAUNA PENGHUNI SUNGAI SULIT DITEMUKAN

Bahkan, dahulu sebelum terdampak longsoran limbah sampah masih banyak ditemukan sejumlah ikan. Tetapi dengan kejadian luar biasa itu sudah tidak ditemukan lagi. 

“Kejadiannya memang luar biasa. Jaring sampah kita rusak tergerus sampah. Ikan Cere yang dulu gampang ditemukan sekarang tidak ditemui,” ungkap Kang AY. 

Sementara Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Benteng (TB) Kota Tangerang mengaku sempat mengalami kendala saat longsor TPA Cipeucang Tangsel ke sungai Cisadane 2020 silam.

img 20220922 203029
Sumarya Dirut PDAM TB Kota Tangerang. (Dok/PenaMerdeka.com)

“Saya sih berharap TPA Cipeucang tidak longsor lagi. Mudah mudahan ada antisipasi cepat,” kata Sumarya ditemui penamerdeka.com, Kamis (22/9/2022).

Agar kata Dirut, distribusi atau suplai air bersih ke 93.000 pelanggan dari PDAM TB Kota Tangerang tidak mengalami kendala. 

Lalu meskipun terjadi longsor lagi, pihaknya mengharapkan ada koordinasi dari Tangsel dan pihak lainnya agar antisipasi bisa dilakukan. Pihaknya berharap mendapat informasi sejak awal kendati secara rutin PDAM TB setiap hari mengawasi pergerakan air Cisadane.

“Dari TPA Cipeucang ke lokasi PDAM TB tentu kan ada jarak. Jadi kita diinformasikan. Pergerakan air dengan sampah biar diantisipasi,” ungkap Sumarya. 

Sebab, sampah di permukaan air kali Cisadane dengan volume banyak menumpuk mengganggu sistem pengolahan air di PDAM TB. 

KONSEKUENSI BIAYA PDAM TB MEMBENGKAK

Sumarya menyebutkan, jumlah personil juga pasti akan diturunkan untuk mencegah air masuk ke dalam Intake. Jumlah personil pasti akan lebih banyak diterjunkan lantaran terkait dengan teknis mencegah air yang bau, berlendir, lalu air beramonia dicegah agar tak masuk ke sistem pengolahan. 

“Mereka pegawai kami itu memonitor regen untuk kualitas air baku. Yang biasanya mengecek 1 jam sekali. Nanti bisa 15 menit atau kalau perlu bisa 10 menit sekali,” ucapnya.  

“Sampah plastik, kayu atau apapun dalam partikel besar harus diantisipasi supaya tidak masuk ke Intake pengolahan kita. Nanti harus dipasang screen penahan sampah. Sebab kalau sampai masuk sampah partikel besar merusak baling baling mesin produksi,” ujarnya. 

Sampah sudah pasti mengganggu. Lalu kemungkinan besar ada faktor kimia di permukaan air kali itu.  

“Potensi kimia di air pasti akan ada. Kita harus antisipasi dengan pencampuran bahan kimia lagi yang bisa menetralisir air supaya tidak tercampur. Kemudian ada cairan pembunuh kuman juga supaya aman sebelum masuk ke pompa untuk diolah,” katanya menegaskan. 

Menurut Sumarya, adanya sampah dengan volume besar di sungai Cisadane lantaran TPA Cipeucang ambrol sudah pasti akan ada konsekuensi untuk PDAM TB sendiri. 

Dia mengatakan, selain persoalan mengganggu teknis tentu ada beban biaya lebih yang dikeluarkan PDAM TB. Karena sifatnya menjaga pelanggan agar tetap puas dengan pelayanan air bersih layak.  

Dan bila kejadian sampah yang menumpuk di permukaan air hanya satu hari. Tentu ada beban biaya, lalu jika kejadiannya hingga terlunta berhari hari tentunya kita akan mengeluarkan biaya yang lebih lagi. 

Berdasarkan pengalaman saat terjadi longsor TPA Cipeucang PDAM TB bukan saja menaikan bahan kimia tetapi menurunkan kapasitas. Menurutnya, kalau kapasitas tetap dipaksakan normal dikhawatirkan akan tidak maksimal. 

“Cuma dampak ke masyarakat kalau dikurangi (kapasitas pengolahan,red) pendistribusiannya juga berkurang. Kami ketat sekali untuk kualitas, kalau belum memenuhi standar belum didistribusikan juga,” tukasnya. 

MINTA PERAN BBWSCC

PDAM TB kata Dirut Sumarya melanjutkan, hanya sebagai pengguna air sungai Cisadane saja. Maka itu, mengharapkan agar pihak Balai Besar Waduk Sungai Cisadane dan Ciliwung (BBWSCC) serta Pemkot Tangsel dan Tangerang ada koordinasi menyelesaikan hal ini. 

“Kami kebetulan hanya pengguna saja. Tapi antar Pemkot nanti dan BBWSCC saja bisa. Diharapkan nanti ada titik temu,” pungkasnya. 

img 20220922 173044
Petugas PUPR Kota Tangerang saat membersihkan sampah di Sungai Cisadane.

Di tempat terpisah, Ruta Ireng Wicaksono Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang mengatakan, untuk pemeliharaan sungai sudah mempunyai bidang tersendiri.

Dan menurutnya, jika terjadi hujan besar saja lantas dibarengi sampah yang banyak di permukaan air pihaknya kerap mengalami kerepotan. Jaring yang dipasang untuk memfilter sampah kerap rusak dan petugas repot mengalami kendala. 

Lain lagi kalau kejadian luar biasa seperti jebolnya TPA Cipeucang yang volume sampahnya menumpuk kemudian melintasi wilayah sungai Cisadane.

PENANGANAN EKSTRA

“Ada penanganan ekstra tentunya. PUPR bidang operasional pemeliharaan memang menangani sampah fisik saja secara manual atau dengan alat. Kami stand by, rutin kalau banjir atau pun tidak,” kata Ruta kepada penamerdeka.com. 

Dia menambahkan, persoalan sampah memang menjadi hal yang harus ditangani bersama. Peran kesadaran masyarakat juga harus ada supaya tidak membuang sembarangan ke sungai. 

Tetapi jika sampah yang menumpuk di sungai Cisadane menurutnya bukan saja PDAM sebagai pengguna, tetapi masyarakat di bibir kali merugi. Ada banyak perusahaan yang mempunyai Intake labtas terganggu akibat tercemarnya air.  

“Kami harap TPA Cipeucang tidak alami longsor lagi. Semuanya bisa normal, Cisadane tetap terjaga, PDAM bisa menggunakan manfaatnya, warga pengusaha juga normal memakai air,” tukasnya. (red)

Disarankan
Click To Comments