KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Tidak mau ketinggalan kereta begitu ungkapan A Jazuli Abdillah, Ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Kota Tangerang lantaran untuk peringati HUT RI ke-73 kali ini dilakukannya dengan cara berbeda dari biasa yang dilakukan orang.

Ia menjelaskan, acara yang bertema ‘Malam Silaturahmi Refleksi Kemerdekaan RI Ke-73’ ini bersama sejumlah panitia mengumpulkan budayawan, para pelaku seni dan Karang Taruna di Pasar Lingkungan, Kunciran Indah, Pinang, Kota Tangerang.

“Kalau balap karung, makan kerupuk, hiburan dangdut itu sudah biasa. Bukannya tidak boleh, tetapi kita jangan sampai ketinggalan kereta kalau setiap peringatan kemerdekaan dengan kegiatan yang seperti itu-itu saja. Polanya harus dirubah. Kita peringati HUT RI yang ke 73 ini dengan cara mengkanal ide gagasan dari anak-anak muda, seperti orasi, baca pusisi, baca buku, bermusik dan lainnya. Supaya generasi milenial tak rusak dari kecanduan gadget,” terang Jazuli kepada penamerdeka.com, Sabtu (18/8/2018) malam.

Menurut Bacaleg Demokrat untuk DPRD Provinsi Banten ini menyatakan, selain kegiatan itu, ada pula wakaf buku pembangunan taman baca (SABUK) Saung Buku Kunciran.

“Tadi juga kita ngewakafkan buku untuk membangun taman baca. Hal itu menjawab kegelisahan orang tua, karena anak jaman sekarang sudah nggak mau baca buku. Dipanggil orangtuanya saja masih fokus sama handphone. Disana nanti ada gerakan literasi karena di era milenial saat ini sangat pentingnya menumbuhkan minat baca,” jelasnya.

Ia menambahkan, dilaksanakanya acara sepeti itu dan dibangunnya taman baca supaya generasi saat ini terhindar dari narkoba, gadget dan yang dinilainya membahayakan.

Kata Jazuli pihaknya berharap supaya pihak perusahaan swasta dan masyarakat lainnya bisa memberikan sumbangsih pentingnya rumah baca. Menggiatkan pemuda supaya gemar membaca.

ICMI memang sengaja mendorong hal itu, lagi pula yang disebut cendikiawan tidak melulu harus berangkat dari pangkat S1, S2 atau doktoral. Lulusan SD pun akan menjadi seorang cendikiawan ketika bisa berbakti kepada lingkungannya.

“Label cendikiawan tidak harus doktor atau gelar apapun. Percuma saja bergelar banyak tapi gak bisa berbuat manfaat ke masyarakat,” tegasnya.

Intinya kita memberi ruang kepada siapa saja melakukan yang terbaik untuk bangsanya supaya mengisi kemerdekaan sebaik mungkin. Seperti yang dilakukan saat peringati HUT RI dengan apel penaikan bendera merah putih di upacara agustusan di lapangan Graha Raya, Pinang, Kota Tangerang.

Kita harus memberikan tempat kepada tukang becak, sopir angkot, tukang ojek dan para pedagang ikut apel menaikan bendera merah putih berbaur dengan guru serta peserta lainnya. Karena kata dia beralasan, mereka minim kesempatan untuk mengikuti acara seremoni seperti itu, yang penting saat itu mereka khidmat mendalami penghormatan kepada sang pejuang terdahulu.

“Jadi nantinya setiap peringati HUT RI nantinya ICMI akan lebih konsenseperti ini. Membangun taman baca, mengundang seniman, karang taruna, siswa dan masyarakat lain. Karena di sini kita bisa berbaur dengan masyarakat bawah untuk pembangunan yang lebih bagus kan. Dan supaya budayawan dan seniman mempunyai wadah seninya. Biar bangkit lagi,” pungkas Jazuli. (hisyam/aputra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *