Aksi ratusan ribu rakyat Turki yang turun ke jalan akibat buntut peristiwa kudeta berdarah didukung oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan. Fethulah Gulen sampai saat ini bahkan diyakini Erdogan adalah biang keladi atas terjadinya peristiwa tersebut.
Maka dari itu ia menyatakan mendukung pembasmian pengikut ulama Fethullah Gulen. Tetapi Gulen, yang kini bermukim di Amerika Serikat, membantah terlibat dalam peristiwa pada 15 Juli tersebut.
Dalam pawai yang diikuti ratusan ribu orang di Istanbul, Erdogan menuding Fethullah Gulen, seorang ulama yang pernah menjadi sekutunya, sebagai aktor upaya kudeta tersebut. Tentu kata Erdogan kita harus mengungkap semua anggota organisasinya dan membasmi mereka dalam kerangka hukum.
“Mereka mengatakan tiada hukuman mati di Uni Eropa. Amerika Serikat memilikinya, Jepang punya, China punya, sebagian besar negara di dunia punya. Jadi mereka dibolehkan untuk menggunakannya. Kita pernah memakainya hingga 1984. Kedaulatan milik rakyat, jadi jika rakyat membuat keputusan ini, saya yakin partai-partai politik akan menuruti,” tambahnya .
Lebih jauh, Erdogan mendukung diberlakukannya kembali eksekusi mati jika parlemen dan rakyat juga menyokong hukuman tersebut.
Partai AK yang berkuasa mulai membersihkan diri dengan memecat orang-orang yang diduga pengikut Gulen. Gerakan Hizmet, nama organisasi pengikut Gulen, kini disebut pemerintah Turki sebagai organisasi teroris.
Bahkan kendati Gulen sudah menyangkal tudingan Erdogan tetapi tidak menyurutkan niat Erdogan untuk membasmi pengikut ulama itu.
“Parlemen Turki yang akan memutuskan soal hukuman mati. Saya menyatakannya lebih dulu, saya akan menyetujui keputusan yang dibuat parlemen,” kata Erdogan. (agus/dbs)







