Bentuk Ghibah yang Dianjurkan dalam Islam, Apa Saja?

KRITERIA GHIBAH MENGANDUNG KEBAIKAN

PenaMerdeka – Sabda Nabi Muhammad SAW tentang hamba Allah SWT yang gemar melakukan ghibah mempunyai konsekuensi kehidupan di akhirat. Namun demikian ghibah juga tidak semuanya dilarang dalam syariat Islam.

Ada sejumlah perbuatan ghibah yang dianjurkan asalkan memenuhi beberapa syarat.

Syaikh Hassan Ayyub dalam As Suluk Al Ijtima’i (Fikih Sosial), mengutip pendapat Imam Nawawi ada sejumlah bentuk ghibah yang dibolehkan dalam Islam.

Kita harus memandang bahwa ghibah yang dimaksud mempunyai buntut nilai kebaikan. berikut ini memiliki tujuan yang benar menurut syariat yang mana tujuan tersebut tidak tercapai kecuali dengan ghibah. Apa saja bentuknya?

1. Saat Dizalimi

Orang yang dizalimi dibolehkan menceritakan kezaliman yang diterimanya dalam bentuk ghibah kepada penguasa, hakim, dan siapapun yang memiliki kewenangan untuk menghentikan kezaliman tersebut.

Hal ini pernah dilakukan oleh Hindun yang mengadukan perilaku suaminya, Abu Sufyan, pada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Abu Sufyan itu pelit, tidak memberi nafkah yang cukup untuk saya dan anak-anak sehingga harus mengambil sebagian hartanya tanpa sepengetahuan dia,”

Rasulullah SAW menjawab, “Ambillah hartanya untukmu sekadar untuk mencukupi kebutuhanmu dan anak-anak secara ma’ruf.” (HR Mutaffaq ‘alaih)

2. Saat Minta Bantuan Hentikan Kemungkaran

Seseorang dibolehkan melakukan ghibah saat meminta bantuan kepada orang lain untuk menghentikan kemungkaran hingga mencegah kemaksiatan. Sebab, Imam Nawawi mengatakan, menghilangkan kemungkaran hukumnya wajib selama mampu dilakukan.

Ada hadits menyebut, “Tolonglah saudaramu yang zalim dan dizalimi…”

3. Saat Minta Fatwa

Bentuk ghibah yang dibolehkan lainnya yakni saat seseorang meminta fatwa atau penjelasan. Namun, lebih diutamakan tidak menyebut secara spesifik orang yang melakukannya bila tanpa disebutkan pun tujuan meminta pendapat tercapai.

Meski demikian, tetap dibolehkan untuk menyebut pelaku dalam ghibah nya bila ghibah dilakukan kepada orang yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut secara langsung.

4. Saat Mengingatkan

Ghibah juga dibolehkan dalam konteks saat mengingatkan muslim agar tidak terjebak pada hal yang merugikan atau membahayakan bagi mereka. Sebab, mengingatkan sesama muslim hukumnya wajib.

Ada sejumlah hadits yang dijadikan landasan kebolehan menggibah pelaku maksiat dan kerusakan. Salah satunya ysaat Fathimah binti Qais RA datang kepada Rasulullah SAW dan mengadu bahwa Abu Jahm dan Mu’awiyah hendak meminangnya.

Rasulullah SAW pun mengingatkan Fathimah RA lalu berkata, “Mu’awiyah itu miskin tidak punya harta sedangkan Abu Jahm suka memukul wanita,”

Hal yang perlu digarisbawahi dalam bentuk yang ini, niat membicarakan dan kekurangan orang lain tersebut semata-mata hanya untuk menasihati dan mengingatkan. Bila ada tujuan lain seperti ingin menjatuhkan nama seseorang atau mencemarkan nama baiknya maka hukumnya tetap haram.

5. Saat Ghibah-an Jelas Terlihat

Artinya, orang yang di ghibah memperlihatkan sendiri kefasikan dan kemaksiatan yang dilakukannya. Misalnya, ada seseorang yang mempertontonkan dirinya meminum khamr di bulan Ramadan atau bahkan memperlihatkan perbuatannya yang menumpahkan darah dengan cara menganiaya.

Namun, ghibah yang dilakukan cukup berkisar di antara dosa yang dipertontonkannya secara terang-terangan tersebut saja dan tidak boleh menambah dengan kecacatannya yang lain.

6. Saat Memperkenalkan Seseorang

Menyebutkan keburukan atau kekurangan orang lain dibolehkan bila nama dan sifatnya tidak cukup dikenal oleh orang lain kecuali dengan sifatnya tersebut. Misalnya, “Dia lelaki dengan kondisi tuli.”

Kata-kata tersebut dibolehkan dengan catatan bukan dengan tujuan menghina. Bila dengan sengaja menghina maka hukumnya haram. (red)

Click To Comments