HUT RI 76

Pagelaran TGIF Tangsel Minim Pengunjung, Acaranya Dibungkus Eksklusif

Kegiatan berskala internasional yang digelar Pemkot Tangerang Selatan di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, pada Selasa (20/9) tidak mendapat respon alias minim antusiasme dari masyarakat.

Kendati dalam pagelaran acara Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) World Tecnopolis Association (WTA) melibatkan 90 negara dimulai Selasa (20/9/2016) hingga Jumat (23/9/2016) itu hanya dihadiri oleh segelintir orang.

Pantauan wartawan dilapangan, pengungjung lebih banyak datang dari kalangan pegawai dan birokrat Tangsel. Seperti diketahui agenda dipusatkan di kawasan Puspiptek ini dibuat beberapa tenda besar.

Banyak stand namun tidak ada pengunjungnya. Stand itu diisi sejumlah produk dari Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga kedirgantaraan. Pengisi stand dari sejumlah daerah di Indonesia. Ada juga universitas ternama, ada Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, Universitas Airlangga, Surabaya, Universitas Brawijaya, Malang, hingga Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sayangnya banyak stand yang diisi produk unggulan tidak dibarengi antusias masyarakat. Padahal untuk memuluskan agenda tersebut, Pemkot Tangsel sudah melakukan sejumlah persiapan. Dari akses jalan menuju Puspiptek yang diaspal hingga ornamen-ornamen lainnya.

Menurut budayawan Tangsel Uten Sutendi, WTA harusnya jadi ikon kebangaan Tangsel. Yang terjadi malah hanya menonjolkan seremoni.

“Sangat di bawah rata-rata event internasional. Pemkot mengemasnya terlalu eksklusif hingga membuat warga enggan menghadiri acara ini. Harusnya ada kegiatan yang bisa membuat masyarakat datang. Masuk ke sini saja orang mungkin sudah ogah karena ketatnya penjagaan,” kata Presiden Tangsel Club itu, saat ditemui di sela-sela acara.

Uten menyayangkan , minimnya minimnya minat warga untuk mengunjungi lokasi pameran. Hal itu menandakan kurangnya sosialisasi secara nasional. “Stan pameran jumlah pengunjung masih sepi. Ini kan event internasional mengundang puluhan negara ini,” ungkapnya.

Harusnya Tangsel membuat ikon khas Tangsel yang punya nilai nasional atau internasional. Misalnya ada festival yang bisa dinikmati masyakat. “Daya tarik art festival saja tidak ada. Terlalu ekslusif. Bagi warga yang mau naik angkutan umum saja sulit untuk menjangkau Puspiptek. Masuk dari gerbang saja dijaga ketat,”ucapnya.

Ditambah lagi jalan menuju Puspiptek persisnya di perempatan wilayah Muncul, Serpong masih macet karena ada perbaikan. (yuyu/agus)

Disarankan
Click To Comments