Jazuli Abdillah Selamat Idul Fitri

Sengketa Besi Freeport di Tangerang Catut Kepresidenan?, Dilapor ke Mabes Polri

Kuasa hukum PT. Indo Ferro menyebutkan, buntut adanya dugaan perampasan barang berupa besi bekas bernilai puluhan miliar yang dilakukan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua, pihaknya akhirnya melakukan upaya pelaporaan ke Mabes Polri.

Karenanya Ramli Tarigan selaku kuasa hukum PT. Indo Ferro mengaku terkait atas sengketa ini sudah melaporkan ke Mabes Polri. Dengan nomer laporan LP/1000/X/2016 pada tanggal 5 Oktober 2016 kemarin.

Terkait dengan pelaporan tersebut sebelumnya Ramli juga menyatakan bahwa sebelumnya pihaknya sudah melakukan hal yang sama ke Polsek setempat dan Polda Metro Jaya, namun tidak direspon. Makanya, ia melaporkan kasus ini langsung kepada Mabes Polri.

“Selain melaporkan oknum LMA Papua, pihaknya juga akan menyurati pimpinan tertinggi di Indonesia karena pengambilan barang milik PT. Indo Ferro juga disertakan surat dari staff Kepresidenan RI bernomer sprin. 61/SKP-LK/08/2016 yang juga dikawal dari sejumlah aparat satuan Sabhara Polda Metro Jaya yang berbekal surat perintah pengawalan verifikasi hibah bernomer sprin/16519/IX/2016,” ujar Ramli Tarigan, Kamis (6/10).

PT. Union Food yang beralamat di Jalan Gatot Subroto, Jatake, Jatiuwung, Kota Tangerang merupakan perusahaan yang hanya dititipkan barang saja. Tetapi sekelompok oknum LMA Papua menganggap bahwa barang berupa besi tua itu adalah miliknya yang dihibahkan dari PT. Freeport.

Ramli Tarigan kembali menjelaskan, adanya proses pengambilan besi yang dimulai sejak sejak Selasa (4/10/2016) yang diklaim LMA Papua ini akhirnya menimbulkan keresahan bagi karyawan yang berada di PT. Union Food karena sempat terjadi kericuhan, sehingga proses kegiatan produksi perusahaan tersebut menjadi terganggu.

Apalagi saat itu mereka mengaku hanya memverifikasi barang yang dicurigai milik dari LMA Papua. Jadi kami juga tidak keberatan. Tapi saat itu juga yang disayangkan oleh pihaknya mengapa mereka memaksakan pengambilan barang tersebut yang awalnya hanya akan mendata barang saja.

“Ada sekitar 20 truk besar yang mengangkut barang dari tempat ini. Nilainya sekitar Rp. 20 miliar. Barang itu bukan milik dari yang orang orang yang mengaku dari Timika Papua, kami beli barang dan bekas mesin itu dari China meskipun ada dari Freeport tapi melalui proses yang berlaku. Bahkan pernah juga kami yang dilaporkan tapi saat itu kasusnya di SP3 kan,” ujar Ramli Tarigan.

Tarigan mengaku bahwa barang yang dibeli dari negeri Cina mempunyai dokumen pembelian.

Diakuinya, pihaknya tidak bisa menahan proses pengambilan barang tersebut lantaran tidak ingin ada kericuhan karena takut mengganggu aktifitas karyawan PT. Union Food yang saat itu juga sudah ketakutan.

Ramli berharap Pihak kepolisian dapat berlaku Adil dengan ikut melindungi PT Indo Ferro dan Union Food yang juga merupakan warga negara Indonesia.

“Saya harap aparat penegak hukum dapat juga melindungi kami, karena pengusaha yang juga merupakan warga negara Indonesia harus wajib dilindungi juga,” ujarnya.

Sementara itu Negro Kokoya perwakilan tokoh masyarakat asal Timika Papua mengatakan, besi tua hibah dari PT. Freeport adalah milik masyarakat tujuh suku di pulau Cendrawasih tersebut. Nantinya akan dikelola untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

“Kami mengambil apa yang menjadi hak kami, kami mencari selama belasan tahun, dan ternyata ada di Provinsi Banten, dan barang itu masih ada sekitar 30 perusahaan,” ujarnya.

Sebelumnya pada Selasa (4/10/2016) David Tambubolon selaku perwalilan masyarak Timika Papua mennyebutka hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan pimpinannya.

“Teman teman media apabila ingin jelas silakan datang ke kantor kami di Sekretaris Kabinet di Jakarta,” tandasnya kepada Pena Merdeka. (agus/herman)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan