Mang Akol Akhirnya Mendapat Perhatian Pemkab Tangerang

0 274

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Aska atau yang akrab disapa Mang Akol (52) yang hidup merana tinggal di gubuk reyot selama 13 tahun akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang.

Wakil Bupati Tangerang, Mad Romli langsung menginstruksikan Camat Jayanti dan Dinas Sosial segera memberikan bantuan kepada Mang Akol untuk dapat hidup dengan layak.

“Sudah saya instruksikan ke Pak Camat Jayanti segera dibantu warga (Mang Akol) kita. Beri dia hidup yang layak,” terang Romli, Selasa (15/10/2019).

Romli pun menyesalkan masih ada warganya terpaksa tinggal di gubuk reyot yang berdiri dari kata layak huni dengan lingkungannya dikelilingi empang dan comberan.

Sementara, Camat Jayanti, CR Inton mengaku sudah melihat langsung dan sudah memberikan bantuan guna membeli sarana prasarana dalam memperbaiki tempat tinggalnya agar lebih layak.

“Hari ini tim kami sudah meluncur ke lokasi bawa pasir, semen dan juga tukang. Kita pakai dulu swadaya kecamatan,” katanya.

Inton menjelaskan, pihaknya bakal menyelesaikan pembangunan rumah milik Mang Akol selama tujuh hari. Karena, sebagaimana peristiwa yang sudah terjadi jika sudah ada perintah langsung dari bupati pengerjaan bakal dilakukan secara cepat.

“Seperti yang sudah-sudah, kalau ada perintah pimpinan kami targetkan dengan cepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, terkait masalah kesehatan Mang Akol, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan puskesmas setempat. Tim medis juga sudah melakukan kunjungan.

“Karena lumpuh dan karena tak ada yang mengurusi, semua aktifitas baik makan dan buang air pun dilakukan disitu,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Aska warga Kampung Sukasari RT07 RW 02 Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, harus hidup merana selama 13 tahun di gubuk reyotnya.

Kondisi tempat tinggalnya berdiri jauh dari kata layak huni itu pun diperparah dengan lingkungannya yang dikelilingi empang dan comberan.

Mang Akol panggilan akrabnya harus bertahan hidup dalam gubuknya seluas 3×3 meter yang berlantai tanah, berdinding bilik bambu yang penuh lubang.

Tak ada perabotan rumah tangga, hanya sebuah ranjang kayu usang hingga gulungan plastik dibuatnya sebagai bantal yang menjadi tempat merebahkan tubuhnya untuk menemani lelapnya tidur.

Tak ada yang baru, semuanya sudah terlihat usang. Bahkan lubang dinding menganga di mana-mana.

Serta pondasi yang mulai keropos hingga genteng pun sudah banyak yang pecah. Bahkan, kesehariannya ia hanya ditemani beberapa ekor ayam miliknya yang diberi oleh tetangganya.

Mang Akol menceritakan tentang kondisinya saat ini yang sudah tidak berdaya untuk melangkah. Dirinya hanya bisa berbaring pasrah karena penyakit yang telah menggerogotinya sejak 2007. (rd)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan. Penamerdeka.com tidak bertanggung jawab dengan isi komentar, tulisan komentar sepenuhnya tanggung jawab komentator sesuai aturan UU ITE