Jokowi Diminta Jangan Gegabah Hindari Resesi Kuartal III 2020

FOKUS PENANGANAN COVID-19

JAKARTA,PenaMerdeka – Ekonom Senior dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri menegaskan, pemerintah tidak mesti memaksakan diri menghindari resesi ekonomi dalam negeri di kuartal III 2020 mendatang.

Sebab, hal ini bisa berbahaya bagi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Pemerintah sebaiknya tetap fokus pada mengendalikan pandemi virus corona dibandingkan dengan memulihkan ekonomi.

Kata Faisal, dampak kedepan bakal lebih buruk untuk seluruh sektor bila pemerintah mengutamakan ekonomi ketimbang kesehatan.

“Pemerintah sepatutnya tidak memaksakan diri agar terhindar dari resesi dengan mengutamakan agenda pemulihan ekonomi ketimbang pengendalian covid-19 (virus corona),” terang Faisal dikutip dari lama blog pribadinya.

Ia menjelaskan, jika pemerintah memaksakan pemulihan ekonomi terlebih dahulu, bisa-bisa resesi ekonomi yang dihindari justru lebih lama ketimbang pemerintah fokus pengendalian virus corona. Semakin lama resesi, maka ongkos yang harus dikeluarkan pemerintah juga kian besar.

“Lebih realistis jika pemerintah berupaya maksimal mengendalikan virus corona agar perekonomian bisa tumbuh positif kembali pada kuartal terakhir tahun ini, sehingga 2021 bisa melaju lebih kencang,” jelas Faisal.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Lembaga itu mengklaim ini merupakan kontraksi pertama sejak kuartal I 1999.

“Karena pertumbuhan pada kuartal I 2020 hanya 2,97 persen, maka pertumbuhan kumulatif sampai semester pertama tahun ini pun terkontraksi sebesar 1,26 persen,” ujar Faisal.

Ia mengungkapkan dua sektor yang paling terpukul akibat pandemi virus corona adalah transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makan minum. Masing-masing sektor tercatat kontraksi 30,8 persen dan 22 persen.

“Namun, karena sumbangan kedua sektor ini bagi perekonomian relatif kecil hanya 5,85 persen, maka pengaruhnya terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tidak dominan,” katanya.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan kemerosotan turis mancanegara sangat memukul kedua sektor ini,” papar Faisal.

Sementara, sektor industri tercatat minus 6,19 persen, perdagangan minus 7,57 persen, konstruksi minus 5,39 persen, pertambangan minus 2,72 persen, administrasi pemerintahan minus 3,22 persen.

Sementara jasa lainnya minus 12,6 persen, jasa perusahaan minus 12,09 persen, dan pengadaan listrik dan gas minus 5,46 persen.

Hanya ada beberapa sektor yang tampak berhasil bertahan di zona positif. Sejumlah sektor itu, seperti pertanian yang tumbuh 2,19 persen, jasa keuangan tumbuh 1,03 persen.

Lalu jasa pendidikan tumbuh 1,21 persen, real estate tumbuh 2,3 persen, jasa kesehatan tumbuh 3,71 persen, dan pengadaan air tumbuh 4,56 persen.

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen terlihat minus pada kuartal II 2020. Detailnya, konsumsi rumah tangga minus 5,51 persen, investasi minus 8,61 persen, ekspor minus 11,66 persen, konsumsi pemerintah minus 6,9 persen, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 7,76 persen, dan impor minus 16,96 persen.

Sementara, Faisal memprediksi Indonesia akan masuk ke jurang resesi pada kuartal III 2020 karena panularan virus corona belum juga berakhir. Namun, ia melihat kontraksi ekonomi kuartal III 2020 tak sedalam kuartal II 2020.

“Dua kuartal berturut-turut (akan) mengalami kontraksi, sehingga Indonesia bakal memasuki resesi,” pungkas Faisal. (jirur)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...