Helmy Halim ads

Menagih Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Pemerintah

BANTEN,PenaMerdeka – Keberadaan sekolah bagi penyandang anak berkebutuhan khusus (ABK) masih jarang ditemui. Lantas bagaimana keberadaan Sekolah Inklusi? Juga masih jarang ditemui.

Padahal, semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan termasuk ABK. Saat ini, masyarakat juga belum hafal benar tentang Sekolah Inklusi.

Sekolah tersebut selain memberikan pendidikan kepada anak normal juga tidak membedakan untuk kategori siswa difabel atau ABK.

Penting disebutkan, adalah soal aspek hardware. Dimana persoalan ini berkaitan dengan lokasi, gedung, sarana prasarana, dan fasilitas pendukung lain untuk ABK.

“Sepertinya belum ada semua, sekolah berstatus negeri dan swasta juga kerap ditemui belum mempunyai fasilitas pendukung untuk anak difabel atau ABK. Sekolah-sekolah semestinya menyediakan fasilitas itu juga,” kata Sumarni (36) orang tua siswa, warga Banten kepada tim penamerdeka.com, Jumat (5/4/2019).

Kata wanita yang akrab disapa Marni ini beralasan, sebab jadi penting lantaran ketercakupan dalam satu gedung sekolah yang harus mampu memfasilitasi semua kebutuhan peserta didik yang kasusnya heterogen (beragam).

“Perlu adanya aksesibilitas yang diterapkan pada sekolah inklusi,” pungkasnya.

Sementara kata Rakhmi Noferly, Direktur Sekolah Alam Bintaro, saat ini bahwa ada orang tua murid yang mendaftarkan anak berkebutujan khusus terpaksa ditolak, sebab keterbatasan kuota.

Di Sekolah Alam Bintaro untuk siswa berkebutuhan khusus kami mempunyai program terapi khusus, asesmen khusus atau pendampingan kepada siswa berkebutuhan khusus.

“Mereka, semua siswa regular dan berkebutuhan khusus bergabung, saling berinteraksi bersama,” tukasnya.

Terkait keberadaan sekolah inklusi saat ini keberadaannya masih dihitung dengan jari. Pemerintah memang belum siap secara signifikan. Artinya perhatian Pemerintah sudah ada hanya saja belum siap semua.

“Karena perlu disiapkan juga secara SDM (guru,red), termasuk contohnya siswa berkebutuhan khusus saat ujian nasional. Nah ini harus pakai standar apa untuk siswa berkebutuhan khusus? Pemerintah belum optimal tetapi belum detail menyiapkan semua. Sekolah di negeri juga belum semuanya siap menjadikan sekolah inklusi,” ucapnya.

Menurut Usep Setiana Kepala Sekolah Khusus (Skh) Arrafat, Pagelaran, Malimping, Kabupaten Lebak, terkait sekolah luar biasa atau Skh, saat ini meskipun perhatian pemerintah sudah ada, tetapi belum maksimal.

“Kami sekarang untuk menjalankan operasional sekolah khusus ABK sejak 2018 hanya mengandalkan dana BOS dari pusat saja. Kalau tahun 2016 dengan 2017 ada bantuan insentif Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Tapi sekarang pas 2018 sudah tidak ada lagi. Katanya sih sedang diusahakan,” ucap Usep, Kamis (4/4/2019).

Usep kembali berharap, supaya pemerintah daerah juga membantu operasionalnya. Saat ini juga, di Slh Arrafat juga terdapat tingkatan dari SD, SMP hingga SMA.

“Kita swasta. Tapi kita ingin supaya siswa bagi anak berkebutuhan khusus yang menyandang tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita di Lebak juga bisa mendapatkan hak pendidikan. Karena sesuai Undang-undang semua warga Negara mempunyai hak untuk sekolah,” pungkasnya. (redaksi/tim)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Zulfikar turut berduka
Disarankan
Loading...