BLIT : Sampah Organik Bukan Momok, Tapi ‘Berkah’ Jelang MEA

PenaMerdeka – Agus Widodo, pembudidaya ternak lele dan ahli pakan asal Balai Latihan Inovasi Tekhnologi (BLIT) Indonesia Mandiri terkait pengelolaan dan pemanfaatan sampah mengatakan, kompleksitas permasalahan tersebut, khususnya di kota-kota besar, adalah volume sampahnya yang semakin tinggi. Tetapi belum diberdayakan secara optimal buat kepentingan masyarakat.

Maka kata Agus Widodo, kita harus menangani langsung pada sumbernya. Mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah tidak selalu jadi masalah dan bisa menjadikan ‘berkah’ buat kita semua.

Dititik lain, Agus Widodo menambahkan, perlunya dikembangkan pilihan tekhnologi tepat guna (TTG) yang efektif, efisien berdaya guna tinggi serta murah. Tetapi, aplikasiannya kedepan harus melibatkan peran masyarakat secara aktif.

Agus beralasan, sampah bervolume besar harus mendapat perhatian lebih, sampah pasar selama ini kata Agus, hanya dibuang di TPA saja.

“Jadi harus dicarikan terobosan yang jitu untuk mengolahnya, sampah organik yang bersumber dari buah dan sayur sayuran dengan sentuhan TTG bisa terolah menjadi pakan ternak.”

Agus Widodo kembali menegaskan, sampah anorganik, jika disandingkan secara baik dengan TTG bisa dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan.

“Di Pamekasan, Madura, Alhamdulillah banyak yang sudah kami lakukan. Dan sudah ada bukti penghargaan yang kami dapat karena konsen di persoalan ini,” ucap Agus.

Dari sampah organik yang volumenya mencapai angka ton-an, tapi kita bisa ciptakan pakan lele atau pupuk. Kemudian peternak lele yang merupakan tercatat sebagai binaan di setiap desa atau kelurahan bisa berkembang karena bisa memajukan ekonominya.

Agus Widodo meyakinkan, bahwa di Tangerang BLIT bisa menghasilkan dan menciptakan itu. “Kami siap. Contohnya, untuk mewakili Banten sendiri BLIT sudah kerap berapa kali mendapat piala di ajang nasional,” katanya menegaskan.

Terkait pengolahan sampah menurut Mohamad Sahri pendiri Balai Latihan Inovasi Tekhnologi (BLIT) Indonesia Mandiri, beberapa waktu lalu diakuinya memang sudah di atur dalam Undang-undang No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

“Dalam aturan tersebut juga diatur soal fasilitas yang diberikan oleh pemerintah daerah. Terutama penerapan teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Artinya pemerintah harus andil lantaran sampah diibaratkan bisa menjadi mutiara asalkan diatur dengan baik.

Tetapi kata pria khas berambut gondrong ini menambahkan, sekarang ini pemerintah daerah kerap tidak mengakomodir kebutuhan itu. “Kita sebagai penemu tekhnologi tepat guna saja terkadang ketika menemukan alat yang berteknologi murah pakai tidak diakomodir,” kata Cak Sahri menegaskan.

Sementara Wahyudin, Ketua BLIT Indonesia Mandiri, menyatakan dengan pola yang sudah diterapkan di Pamekasan, Madura, di Tangerang pun bisa kita coba. Artinya BLIT kata Wahyudin bisa membantu memberdayakan masyarakat.

“Budidaya ternak lele sangat menjanjikan, kita ciptakan itu. Setiap hari, kebutuhan lele sangat tinggi sekali. Di Kota Tangerang saja belum ternuhi kebutuhan pasar lele. Ambilnya dari luar daeah seperti Sukabumi, Bogor dan wilayah lainnya,” kata pria yang menjabat Bendahara PWI Kota Tangerang ini menjelaskan.

Artinya jelang Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) berjalan, kita harus pandai atau kreatif memanfaatkan peluang dan potensi ekonomi yang ada. Budidaya lele kita dorong bagi masyarakat, BLIT berusaha menciptakan mesin pakannya.

“Bisa dari sampah organik di setiap pasar yang ada di Kota Tangerang, jadi volume pengangkutan sampah ke TPA nya berkurang, tetapi kita juga bisa memberdayakan masyarakat secara langsung dengan ternak lelenya. Asalkan semua pihak bisa saling mendorong,”pungkas Wahyudin. (Red Pm)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.