Disebutkan pihak di Amerika Serikat (AS), seharusnya Donald Trump bakal calon Presiden Negara berjuluk paman Sam tersebut harus mengambil simpati calon pemilih dengan cara elegan. Sejumlah statmen politik Trump tercatat kadang ‘menyewotkan’ lawan politiknya, tetapi sejumlah media AS tetap menawarkan publikasi Trump ke masyarakat.
Gaya kampanye Trump bisa ditelisik sebagai acuan apakah dalam Negara tertentu ataupun di Indonesia bisa mengunakan atau di tolak dengan yang seringkali disebut para politisi sebagai politik ‘belah bambu’.
Pasalnya setelah Donald Trump berseteru dengan tokoh AS lainnya kini ia kembali mengeluarkan kegemarannya yakni mengeluarkan kalimat kontroversial menuduh Presiden Barack Obama dan capres dari Partai Demokrat Hillary Clinton sebagai pendiri kelompok ISIS.
Diberitakan sejumlah media bahwa Donald Trump bukan hanya berselisih faham dengan satu tokoh saja. Pengusaha sukses itu bahkan pernah bersitegang dengan mendiang petinju legendaris almarhum Muhamad Ali.
Persaingan dalam kampanye memilih presiden di AS memang sudah memasuki tensi tinggi. Dalam sebuah kampanyenya, Donald Trump capres AS dari Partai Republik menuding Obama adalah pendiri dari ISIS.
Statmen berimplikasi politik tersebut tidak dikeluarkan hanya sekali saja, Trump bahkan mengulangnya dalam dua wawancara dengan media.
Kendati belakangan ia menyebut bahwa sangkaannya hanya sebuah sarkasme. Komentar awalnya padahal dinilai telah menuduh Obama membentuk kondisi yang membuat ISIS berkembang. Tetapi pada saat ditanya kembali pada Kamis 11 Agustus, Trump juga menegaskan bahwa: “Yang maksud adalah, dia adalah pendiri dari ISIS”.
Ini adalah salah satu dari berbagai kontroversi yang dilontarkan Trump. Pada akhirnya dia juga mengakui kampanyenya mengalami kesulitan.
Tetapi sayang Trump yang kerap sombong menegaskan dirinya adalah kandidat yang paling cocok menjabat sebagai Presiden AS kini sudah mengakui ada kesulitan dalam kampanye capresnya di Utah. Apalagi, Trump juga dihadapkan pada persoalan internal oleh sekitar 70 anggota Partai Republik yang sudah menentang dirinya. (redaksi)







