Tiga Pengusaha Tambang Pasir Ilegal di Lontar Serang Diciduk Polisi

KABUPATEN SERANG, – Tiga pengusaha tambang pasir yang diduga belum mengantongi ijin alias ilegal dan beroperasi di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang diamankan aparat kepolisian Satuan Reskrim Polres Serang.

Ketiga pengusaha tambang ilegal tersebut adalah Hafid (25) dan Sibli (60) warga Kampung Brambang, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa di Desa Alang-alang, Kecamatan Tirtayasa, dan Mulyadi (39) warga Kampung Kemuncang, Desa Kelapian, Kecamatan Pontang di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa.

Setelah diperiksa aparat tidak dilengkapi Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan Rakyat (IPR) atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten.

“Ketiga pengusaha tambang pasir illegal ini terancam hukuman 10 tahun penjara dan (denda) Rp10 miliar, Pasal 158 UU RI Nomor 4/2009 tentang Pertambangan Minerba,” kata Kasat Reskrim Polres Serang AKP Gogo Galesung dalam ekspos yang digelar di Mapolres Serang, Jumat (17/3).

Menurut Gogo, kedua pelaku penambangan liar, Hafid dan Sibli sudah melakukan penambangan pasir pada dua bulan lalu, sedangkan Mulyadi sudah beroperasi selama tujuh bulan. Saat diperiksa aparat, ketiga tersangka pengusaha tambang pasir mengakui tidak memegang izin usaha dari pemerintah atau instansi terkait.

Dari pengakuannya ketiganya, penambangan pasir laut di pesisir Pantai Lontar ini dijadikan bahan baku keramik. Setiap harinya masing-masing tersangka mampu mengirimkan pasir sedot ke perusahaan keramik sebanyak 10 kali angkut dengan harga jual Rp200 ribu persetiap kali angkut.

Pengungkapan kasus ini pengusaha tambang pasir ini berawal dari keresahan warga setempat atas maraknya aktivitas penambang pasir liar di pesisir pantai utara Kabupaten Serang. Sebab akibat dari penyedotan pasir laut ini menimbulkan abrasi serta kerusakan pada lingkungan termasuk akses jalan.

“Kita mengamankan barang bukti berupa lima kendaraan Daihatsu bak terbuka, tiga unit alat penyedot pasir, selang karet, pipa paralon, pelampung, sekop, jirigen dan buku,” terang Gogo. (afed)

Disarankan
Click To Comments