kanal partai gerindra

Pilkada Kota Tangerang, Miskin Calon, Parpol Takut Miskin?

Minim kontestan Pilkada potensi adanya kotak kosong
0

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Awal sebelum tahapan Pilkada Kota Tangerang dimulai, partai politik (Parpol) di kota Akhlakul Karimah berani memunculkan kadernya sebagai calon. Belakangan kendur, sampai sebagian besar partai akhirnya merapat ke petahana Arief R Wismansyah.

Dalam proses penjaringan bakal calon sejumlah partai juga mendorong kadernya supaya masuk dalam bursa pencalonan dalam Pilkada yang akan berlangsung 2018 nanti.

Dari kalangan birokrat sempat juga muncul nama Hudaya Latuconsina, Kepala Bappeda Provinsi Banten yang terang-terangan muncul mendaftar ke sejumlah parpol dalam proses penjaringan bakal calon Pilkada Kota Tangerang. Kini Hudaya nyaris tidak terdengar lagi eksistensinya sebagai calon.

Ella Sylvia politisi perempuan asal PAN ini awalnya termasuk berani mempublis dirinya maju untuk menjadi calon. Serupa dengan Hilmi Fuad, kader PKS ini juga bahkan telah memejeng gambarnya hampir di setiap pojok pelosok Kota Tangerang.

PPP juga sempat menyodorkan kader Iskandar Zulkarnain untuk maju mewakili Parpol berlambang Kabah. Sachrudin Ketua DPD II Golkar dan Wakil Walikota sempat ramai diberitakan juga bahkan maju menjadi calon walikota, menantang petahana. Namun belakangan tetap berpasangan dengan Arief R Wismansyah justru sebagai wakil walikota seperti di Pilkada Kota Tangerang 2013 silam.

Selain Sachrudin yang tetap menjadi calon kendati hanya kembali di posisi wakil walikota, namun kandidat lain semuanya hampir dipastikan kandas, lantas apa penyebabnya?

Jika ditelisik untuk pencalonan kader, PKS Kota Tangerang mengantongi 4 kursi, PPP 5, PAN 4 kursi, Golkar 6 kursi perwakilan di DPRD Kota Tangerang. Memang harus mengantongi 10 kursi untuk menggenapi kuota sebagai syarat pencalonan pengusungan partai sebagai calon. Hingga kini masyarakat masih menunggu kabar PDI Perjuangan Kota Tangerang untuk memunculkan calon. Apalagi dalam perhelatan ini parpol besutan Megawati Soekarnoputri ini bisa melenggang tanpa harus koalisi.

Kata Ray Rangkuti, peniliti dari Lembaga Lingkar Madani kepada PenaMerdeka.com beberapa waktu lalu menyebutkan, sampai saat ini ketika tokoh atau calon yang memiliki elektabilitas tinggi kemudian bakal maju di Pilkada Kota Tangerang tetapi tanpa mengantongi isi tas tidak gampang langsung diusung Parpol.

Menurutnya, Sachrudin juga yang sempat diberitakan menjadi calon Walikota kesulitan gagal melobi partai lain lantaran tidak cukup kuat untuk menggaransi kesepakatan.

Sejatinya menurut Ray, di manapaun kader partai yang mempunyai prestasi harus didorong untuk dikasih reward (penghargaan). Partai tidak harus berfikir menang kalah.

“Di Indonesia kendati demokrasi sudah ada kemajuan terutama di perhelatan Pilkada, ada sejumlah Pilkada di daerah lain yang langsung mengusung calon tanpa ada embel embel lain. Jika partai tidak punya calon memang sebaiknya cari calon lain yang punya varian prestasi, popularitas atau elektabilitas. Tetapi jangan berparameter isi tas, partai harus merubah. Dari sekarang model pemikiran seperti ini kita tolak,” ucapnya.

Parpol seharusnya sudah berubah sikap. Ketika calon potensial dari kadernya harus didorong untuk meregenerasi menonjolkan sebagai calon pemimpin. Nantinya kedepan bisa jadi menjadi calon pemimpin nasional yang kompeten.

Nanti bagaimana mungkin kadernya akan teruji jika tidak dikasih kesempatan atau harus melulu dengan biaya politik. Kendati kata Ray, memang ada real biaya politik yang harus dikeluarkan.

“Persoalan cost politik memang bukan hanya di Parpol dan di perhelatan Pilkada Kota Tangerang saja, masyarakat indonesia masih cenderung mau diiming imingi dengan uang kalau mau memilih calon,” kata Ray menegaskan.

Dikasih amplop Rp50 ribu mau tetapi dalam perjalanan ketika walikotanya tidak bagus menuntut program bagus. Amplop Rp50 ribu tidak sebanding dengan program 5 tahun yang tidak bagus.

“Kenapa KPK Sekarang ini banyak menindak lantaran dari langkah awal sudah banyak yang salah. Pencegahan korupsi bukan soal KPK menindak kepala daerah, tetapi peran partai untuk menelurkan atau menciptakan kader pemimpin baik dan potensial harus dimulai,” katanya menerangkan.

Sementara Memed Chumaedi, pengamat dari Universitas Muhamadiyah Tangerang (UMT) terkait perhelatan Pilkada Kota Tangerang yang minim calon, menyebut partai harus bertaruh resiko apapun.

“Kan selama ini mesin partai juga kalau mengusung calon sifatnya hanya rental saja. Selama tahapan berlangsung partai disewa hanya setengah tahun saja, kerap tidak berkelangsungan,” kata Memed.

Pilkada langsung itu sistem elektoral (keterpilihan) sudah seharusnya sejak jauh hari Parpol mempersiapkan kader terbaik. Bisa didorong yang sudah duduk di kursi dewan. Kalau seperti ini tidak ada rekrutmen. Kalau di Pilkada Kota Tangerang nanti ada kotak kosong, artinya sistem rekrutmen memuculkan calon dari partai gagal.

Parpol harus mencoba memaksa kader untuk menjadi calon terbaik. Rata rata sekarang ini cost politik yang diminta kepada calon dengan berbagai kepentingan. Kepentingan cost politik 2019, kepentingan ketua, anggota konstituen dan lainnya.

Kebiasaan mahar juga menjadi penyumbat proses demokrasi. Mereka kader kalau memang terbaik harus dipaksakan dan dibisakan maju.

“Kondisi apapun seharusnya partai bisa meregenerasi pemimpin. Partai seolah takut miskin. Kondisi ini masih melekat, meskipun masih banyak faktor ekonomis lainnya yang jadi penghambat tokoh enggan untuk maju sebagai calon,” ucapnya ketika dikonfirmasi, Kamis (28/12/2017). (tim/redaksi)

Puji Rahman Hakim Perindo
Baca Berita Lainnya
Pemkab Bekasi Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

leo justo consequat. quis, luctus ut leo. amet,