Distanbun Lebak Imbau Petani Tidak Jual Gabah Lagi

0

KABUPATEN LEBAK,PenaMerdeka – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak menghimbau agar para petani tidak menjual gabah lagi. Namun, harus sudah menjual beras.

Kepala Dibas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Dede Supriatna mengatakan, penjualan gabah tidak menguntungkan dibandingkan menjual beras.

“Penjualan gabah tentu tidak menguntungkan dibandingkan menjual dalam bentuk beras,” ungkapnya.

Pemerintah daerah saat ini meluncurkan beras merk Ciberang agar menampung beras dari petani Kabupaten Lebak yang luas lahan produktifnya mencapai 30.000 hektare. Peluncuran beras Ciberang tersebut untuk meningkatkan produksi pangan sehingga menyumbangkan kesejahteraan bagi petani.

Selain itu menjual produksi beras, bisa menyerap lapangan pekerjaan mulai buruh angkut, pekerja penggilingan beras dan juga sopir. kendati demikian, pihaknya menghimbau agar tidak menjual gabah ke luar daerah karena tidak menguntungkan ketimbang menjual beras.

“Kami minta agar kelompok-kelompok tani memproduksi beras merk Ciberang sebagai beras unggulan dari Kabubaten Lebak,” tuturnya.

Selama ini, pendapatan usaha pertanian pangan belum dapat memberikan kesejahteraan bagi tani sehingga kehidupan mereka identik dengan kemiskinan. Sebab kebanyakan jika musim panen raya dijual berbentuk gabah ke tengkulak maupun penampung. Penjualan tengkulak juga terkadang harga gabah yang anjlok karena adanya permainan spekulan itu.

“Kami mengimbau agar petani agar tidak menjual gabah, tetapi menjual dalam bentuk beras saja, sehingga bisa memenuhi pasar lokal. Saya mengapresiasikan kepada para Asosiasi Pasar Tani (Aspartani) karena mampu memproduksi beras,” tungkasnya.

Produksi beras petani Lebak selain dipasok ke sejumlah pasar lokal juga Tangerang dan Jakarta. Namun, produksi beras tersebut kini menjadi beras berlabel Ciberang. Produksi beras Ciberang itu dari berberapa jenis varietas di antaranya Ciherang, Mikongga dan Inpari. Keunggulan beras Ciberang memiliki kualitas, selain pulen rasanya juga beraroma serta mempunyai nilai jual di pasaran.

Dede menambahkan, supaya bergabung, agar membentuk Aspartani. Karena, asosiasi  tersebut dapat menampung beras dari para anggotanya dengan harga yang cukup bagus.

“Kami sangat yakin kehidupan petani akan menjadi lebih baik jika mereka menjual beras dan dapat mengeruk keuntungan puluhan juta Rupiah per hektarenya,” tambahnya. (redaksi)

Baca Berita Lainnya

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.