Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Perppu Diteken Jokowi, Pelaku Phedofil Dibidik Kebiri

Jakarta – Sejak lama Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengintruksikan agar Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) soal kekerasan seks terhadap anak (phedofil) segera direalisasikan.

Beberapa waktu lalu sebelum Jokowi meneken Perppu tersebut ia meminta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani segera menyelesaikan pembahasan perppu tentang hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual tersebut.

“Saya ingin agar ini menjadi sebuah kejahatan yang luar biasa sehigga penanganannya dengan sikap luar biasa. Segera koordinasikan, termasuk di dalamnya mengenai perppu kebiri,” ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Menurutnya, harus ada kerjasama yang berkesinambungan antara menteri terkait dengan Polri dan Kejaksaan Agung mengenai kejahatan seksual anak tersebut.

Pasalnya Jokowi menganggap prihatin karena selama ini angka kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak tidak pernah berkurang bahkan cenderung tinggi. Kasus paling anyar adalah pemerkosaan disertai pembunuhan terhadap Yuyun, siswi SMP di Bengkulu.

Sebelumnya kasus pelecehan seksual sejak lama muncul. Ramai menjadi sorotan masyarakat ketika kasus pelecehan seksual yang dilakukan petugas kebersihan terhadap murid TK JIS (Jakarta International School).

Juga munculnya buron FBI William Vahey yang pernah menjadi guru di sekolah tersebut selama lebih dari sepuluh tahun, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di negaranya.

Menanggapi persoalan tersebut, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Heryawan berpendapat bahwa dibutuhkan peran serta yang maksimal dari seluruh lapisan masyarakat untuk mengatasi persoalan tersebut.

Ia menerangkan, bahwa masyarakat harus memberikan perhatian khusus, hingga berani untuk melapor jika ada kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak.

“Pilihan kita hanya dua, mau menolong atau ditolong?,” kata Netty.

Menurut dia, masyarakat yang memilih untuk menutup mata dan tidak peduli terhadap ancaman kekerasan, bisa saja menjadi korban, karena minimnya informasi, wawasan, nilai-nilai agama, hingga akses pengaduan dan perlindungan bagi korban.

“Dari tahun 2013 sampai 2015, sudah ada 231.000 kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak-anak”, kata Netty. (wahyudi/dbs)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
HPN
Loading...