Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Pilkada Serentak Banten, Hegemoni Incumbent, Mahar dan Kotak Kosong

BANTEN,PenaMerdeka – Penyelenggaraan Pilkada Serentak 2018 di Provinsi Banten yang menyertakan incumbent sebagai calon ada di Kabupaten Tangerang, Lebak serta Kota Tangerang. Fakta hegemoni incumbent tetap momok untuk calon lain, bahkan diprediksi akan ada incumbent versus kotak kosong.

Berbeda kondisi dengan Pilkada Kota Serang yang banyak melibatkan calon. Karena TB Khaerul Jaman, Walikota Serang berbarengan dengan perhelatan Pilkada telah habis masa jabatannnya. Merasa tidak ada incumbent, efeknya banyak calon yang ikut kontes mulai dari kalangan politisi hingga birokrat.

Menurut Memed Chumaedi Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhamadiyah Tangerang (UMT) membeberkan, soal perhelatan Pilkada serentak yang ada di Provinsi Banten potensi kotak kosong bisa terjadi di Kota Tangerang.

Ia mengatakan, apalagi Sachrudin yang sebelumnya dikabarkan bakal melawan incumbent alias petahana kini resmi menjadi pasangan calon untuk Arief R Wismansyah lagi.

Namun lebih dalam dipaparkannya, kontestasi politik memilih walikota dan wakil walikota di kota berjuluk Akhlakul Karimah peran Partai Politik (Parpol) dianggap gagal untuk mencetak calon pemimpin.

“Kondisi apapun seharusnya partai bisa meregenerasi pemimpin. Partai seolah takut miskin. Kondisi ini masih melekat, meskipun masih banyak faktor ekonomis lainnya yang jadi penghambat tokoh enggan untuk maju sebagai calon,” ucapnya ketika dikonfirmasi, PenaMerdeka.com, Rabu (27/12/2017).

Sistem demokrasi di Indonesia terutama untuk Pilkada yang melibatkan Parpol sebagai pengusung calon juga menjadi kendala.

Pasalnya calon yang hanya mengantongi elektabilitas tetapi tidak memiliki ’isi tas’ dengan sendirinya akan mundur karena kerap harus membayar mahar konsekwensi pemenuhan jumlah kuota kursi partai pengusung.

Ongkos politik menjadi dasar potensi kotak kosong akan terjadi, buktinya sampai sekarang di Kota Tangerang terdengar baru satu paslon saja yang beredar untuk maju di Pilkada, yakni Arief-Sachrudin.

“Sehingga tak ayal bisa sangat mungkin calon dari partai tidak mau melawan incumbent. Nanti bisa saja ditaruh ‘boneka’ sebagi simbol perlawanan kepada incumben, tetap saja disebut ada kegagalan,” ucap Memed.

Sementara itu, Syaeful Bahri, Komisioner KPU Banten bahwa dalam perhelatan Pilkada persoalan kotak kosong sebenarnya diatur dalam Undang-undang. Dan pada Pilkada 2017 itu sudah terjadi di 9 daerah di Indonesia.

“Sebenarnya kita (KPU) tidak etis untuk menyebut soal tanpa ada lawan. Kan apalagi proses pendaftarannya juga masih menyisakan waktu cukup lama. Karena hal itu juga urusan Parpol, kita hanya berusaha mensosialisasi tahapan agar Pilkada sukses,” kata Syaeful.

Jika mengatakan incumbent tidak ada lawan juga tidak sepenuhnya benar. Sebab kalau kita ambil contoh Pilkada di Kabupaten Lebak banyak calon yang bermunculan. Saat ini konstelasi politik di empat wilayah masih berjalan.

Adanya kotak kosong juga tidak disebut sebagai kegagalan penyelenggara Pilkada untuk mensosialisasikan pelaksanaan Pilkada serentak di Banten. KPU di Kota Tangerang, Serang dan Kabupaten Tangerang serta Lebak bagus melakukan sosialisasi.

“Kita juga membuka kran kepada tokoh yang tidak mempunyai Parpol. Tetapi bisa maju dalam jalur perseorangan. Contohnya di Kota Serang ada sejumlah calon yang maju dalam jalur perseorangan atau independen,” ucap Syaeful menjelaskan. (redaksi/tim)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...