ICMI Kota Tangerang: Biaya Pilkada Mahal, ke TPS Harus Ada Amplop Cepek

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Menjelang Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019, nantinya ditemukan sejumlah variable kebiasaan calon pemilih. Tetapi, dengan konsekwensi biaya Pilkada yang mahal, kata A Jazuli Abdillah, pasca mencoblos salah satu calon lantas bisa memberikan dampak ekonomi bagi pemilih.

Jazuli yang hadir sebagai nara sumber dalam acara diskusi publik yang digagas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Kota Tangerang dalam kesempatan itu hadir juga mengisi acara Agus Muslim Ketua Panwaslu Kota Tangerang, M Ibrahim Rantau Tenaga Ahli Komisi II DPR-RI, Suryadi Syarief dari kalangan Akademisi berlangsung di Aula Yayasan Budi Mulya, Ciledug, Kota Tangerang.

“Biaya Pilkada terbilang mahal, mau jadi walikota harus menyiapkan anggaran yang luar biasa. Biaya sosialisasi pemasangan baner spanduk dan lainnya tentunya menguras kantong,” ucap Jazuli, Rabu (31/1/2018).

Ditambah lagi waktu tahapan Pilkada yang panjang sehingga otomatis menguji kesabaran calon karena memutar otak menghadapi tekanan dan strategi politik.

Hanya saja menurut Ketua ICMI Kota Tangerang ini menegaskan, perubahan ekonomi bagi kita memang harus ada setelah berlangsung Pilkada, Pileg dan Pilpres. Ini menyangkut program calon.

“Dengan biaya Pilkada yang mahal apakah nanti pasca mencoblos calon di TPS lantas yang nganggur bisa langsung dapat kerja? Pedagang yang jualannya sepi bisa ramai pembelinya?” ucap Jazuli.

Ia menambahkan, terjadinya Pilkada dengan calon tunggal atau Pilkada kotak kosong dikarenakan juga proses pencalonan dirasa mahal. Calon lain tidak berani maju.

“Namun demikian yang penting buat kita demokrasi itu tetap berjalan. Tidak ada konflik, berlangsung secara jujur dan adil,” tandasnya.

Sementara M Ibrahim Rantau salah seorang narasumber lainya menyebut soal budaya pemilih dalam kontestasi Pilkada, Pileg dan Pilpres mempunyai beragam budaya kebiasaan.

Termasuk adanya biaya Pilkada, Pileg dan Pilpres harus ada iming-iming materi. Mereka datang ke TPS bahkan ada yang belum mengetahui siapa yang akan dicoblos.

“Ada budaya datang ke TPS harus ada stimulusnya. Tidak dikasih ongkos cepek tidak memilih. Tidak dikasih amplop juga tidak datang ke TPS,” ucapnya.

Namun juga tandas Ibrahim diluar biaya Pilkada dan lainnya dalam kontek partispasi memilih pada sebuah pesta demokrasi ada juga masyarakat yang datang ke TPS memang berangkat dari rasa kewajiban mencoblos calon supaya bisa membawa perbaikan secara menyeluruh selama lima tahun ke depan. (redaksi/tim)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...